Kabarminang – Pemerintah tengah mengkaji perluasan cakupan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) hingga masyarakat kelompok Desil 8 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Rencana tersebut disiapkan untuk memperluas perlindungan kesehatan bagi masyarakat yang masih rentan secara ekonomi.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, perluasan cakupan PBI-JK diperlukan agar perlindungan kesehatan tidak hanya menjangkau masyarakat miskin dan tidak mampu, tetapi juga kelompok masyarakat yang belum memiliki ketahanan ekonomi memadai.
Menurutnya, masyarakat yang secara statistik tidak lagi masuk kategori miskin belum tentu memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk menghadapi biaya pengobatan, terutama ketika mengalami penyakit berat.
“Jangan sampai hanya karena satu kali sakit berat, sebuah keluarga kehilangan tabungan, terjerat utang, bahkan jatuh miskin. Karena itu, perlindungan kesehatan harus menjangkau masyarakat yang masih rentan,” kata Gus Ipul, Kamis (5/11/2026).
Ia menjelaskan, pembagian Desil 1–8 menggambarkan kelompok 80 persen penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan, mulai dari kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Meski demikian, rencana perluasan tersebut tidak berarti seluruh masyarakat dalam kelompok Desil 1 hingga Desil 8 otomatis mendapatkan bantuan iuran.
Selama ini, bantuan iuran jaminan kesehatan yang bersumber dari pemerintah pusat diprioritaskan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Namun, pemerintah melihat kelompok masyarakat di atas Desil 5 juga masih berpotensi mengalami kesulitan ekonomi ketika menghadapi kebutuhan pengobatan dengan biaya besar.
Risiko tersebut menjadi perhatian setelah pemutakhiran DTSEN pada awal 2026 menunjukkan lebih dari 11 juta peserta PBI-JK dinonaktifkan. Sebagian besar peserta yang dinonaktifkan mengalami pergeseran status kesejahteraan ke kelompok Desil 6–10.
“Orang yang hari ini tidak masuk kategori miskin belum tentu sudah mampu. Ketika menghadapi penyakit berat dan biaya pengobatan yang besar, mereka bisa kembali jatuh miskin. Inilah yang ingin kita cegah,” ujarnya.




















