Kabarminang – Selepas Magrib hingga sekitar pukul 23.00 WIB, Abdul (42), yang akrab disapa Syukur, masih berkeliling menjajakan putu menggunakan sepeda gerobak yang telah menemaninya sejak 2012.
Di balik rutinitas tersebut, ada satu harapan sederhana yang terus ia pikirkan: dagangannya laku sehingga ia bisa menyisihkan uang untuk pulang ke Jawa dan bertemu adik perempuannya.
“Yang terpikir semoga laku agar bisa menabung untuk bisa pulang ke Jawa bertemu adik perempuan saya,” kata Syukur, Kamis (27/8/2026).
Keinginan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang hidup Syukur sebagai perantau di Sumatera Barat. Selama puluhan tahun, ia bertahan hidup dengan mengandalkan pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik hingga akhirnya memilih berjualan putu.
Pernah Dinyatakan Meninggal Saat SD
Syukur merupakan warga asal Sunda. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan. Ia mengatakan, dirinya dan adik bungsunya memiliki ayah yang sama, sedangkan dua saudaranya yang lain berbeda ayah.
Kedua orang tua Syukur meninggal dunia ketika ia masih muda. Pada 1999, ia kemudian dibawa oleh abang keduanya ke Sumatera Barat.
“Sebenarnya masih ingin tinggal, tapi dengan siapa? Adik saya yang perempuan tinggal bersama abang yang pertama,” ujarnya.
Sebelum meninggalkan Jawa, Syukur pernah mengalami peristiwa yang hingga kini menjadi bagian penting dalam kisah hidupnya. Saat masih duduk di bangku SD, ia mengaku pernah dinyatakan meninggal ketika menjalani perawatan di rumah sakit.















