“Saya hanya merasa tertidur dan bermimpi sedang mengobrol dengan orang tua kandung saya saat itu di rumah lama kami di Jawa. Terasa ada yang memanggil dan saya membuka pintu. Saat itu saya tersadar,” katanya.
Syukur mengaku tidak mengingat apa yang terjadi ketika dirinya dibawa pulang. Ia hanya mengingat saat membuka mata dan melihat wajah abang serta orang tua angkatnya.
“Saya tidak ingat. Yang saya ingat saat membuka mata, saya hanya melihat wajah abang saya dan orang tua angkat saya,” tuturnya.
Setelah sadar, Syukur kembali dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya. Menurutnya, setelah kejadian tersebut ia diberi nama Syukur karena masih diberikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya oleh Allah. Tidak lama kemudian, ia dibawa ke Sumatera Barat, tepatnya ke Pesisir Selatan.
“Saya merasa campur aduk. Ada rasa ingin selalu bermimpi itu bersama orang tua, tetapi juga bersyukur masih diberikan kehidupan sama Allah,” katanya.
Menjadi Perantau di Sumatera Barat
Datang ke Sumatera Barat dalam usia muda membuat Syukur harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia mengaku sempat merasa takut karena harus menghadapi perbedaan bahasa, budaya hingga kehidupan sosial.
“Terasa semuanya berbeda. Saya merasa seperti anak-anak lainnya yang takut, nggak ngerti, apalagi dengan beda bahasa, budaya dan sosial,” ujarnya.
Di Sumatera Barat, Syukur bekerja bersama abang keduanya dan seorang warga asal Sumbar yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Berbagai pekerjaan dilakoninya, mulai dari kuli angkut, kuli muat pasir, kenek truk hingga kuli bangunan.















