“Dulu saya kerja macam-macam. Jadi kuli angkut, kuli muat pasir, pernah juga jadi kenek mobil truk bawa pasir, sama kuli bangunan,” katanya.
Ia juga pernah mengambil pasir di Salido bersama abang dan ayah angkatnya yang saat itu tinggal di Pesisir Selatan. Menurut Syukur, pekerjaan tersebut tidak terlalu menjadi persoalan karena ia bekerja bersama orang-orang yang menjaganya.
“Tidak, karena saya kerja dengan ayah angkat dan abang saya,” katanya.
Pada 2005, Syukur pindah ke Padang. Setelah abangnya berkeluarga, ia mulai hidup sendiri dengan mengontrak di kawasan Alai dan Parak Kopi, Padang Utara.
Memulai Perjalanan sebagai Penjual Putu
Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 2012, Syukur mulai berjualan putu. Keahlian membuat putu diperolehnya dari abang dan ayah angkatnya yang juga pernah berjualan putu.
“Karena abang dan ayah angkat saya yang mengajarkan bikin putu. Mereka juga jualan putu, tapi tidak tetap seperti saya,” ujarnya.
Ia masih mengingat malam pertama berjualan. Dengan sepeda gerobak yang hingga kini masih digunakan, Syukur berkeliling semalaman menjajakan putu.
Penghasilannya saat itu sekitar Rp80 ribu.
“Semalaman saya dapat Rp80 ribu. Waktu itu terasa senang banget,” katanya.
Sejak saat itu, Syukur terus menekuni usaha tersebut. Setiap malam selepas Magrib, ia mendorong gerobaknya berkeliling dan biasanya baru selesai sekitar pukul 23.00 WIB.
Rumah Tangga Berakhir, Kembali Menatap Langit
Perjalanan hidup Syukur kembali diuji ketika ia menikah pada 2023. Setelah bertahun-tahun menjalani hidup sebagai perantau, ia berharap memiliki seseorang yang dapat menjadi teman dalam menjalani kehidupan.
Namun, rumah tangga tersebut tidak berlangsung lama. Pada 2025, Syukur mengaku istrinya pergi meninggalkannya bersama laki-laki lain. Peristiwa itu diketahuinya ketika ia baru pulang berjualan putu.
“Saat pulang jualan, istri saya ternyata telah kabur dengan laki-laki lain. Saat itu saya lihat pergi dengan mobil di depan rumah,” kata Syukur.
Ia mengaku tidak tahu harus berbuat apa saat itu.
“Rasanya hancur banget dan nggak bisa dijelaskan,” ujarnya.
Peristiwa tersebut membuat Syukur sulit kembali percaya kepada orang lain. Ia bahkan merasa tidak yakin masih ada orang yang mau menerima dan menemaninya.
“Saya tidak percaya lagi ada yang akan mau menerima saya, apalagi mau menemani saya,” katanya.
Meski demikian, Syukur memilih untuk tetap menjalani rutinitasnya. Selepas Magrib, ia kembali mendorong gerobak putu dan berkeliling hingga malam. Saat rasa sedih kembali muncul, ia terkadang menghentikan gerobaknya. Ia duduk sebentar dan menatap langit sebelum melanjutkan perjalanan.
“Kadang sedih banget dan berhenti duduk sebentar untuk menatap langit,” tuturnya.
Menabung untuk Pulang dan Bertemu Adik
Di tengah kesibukannya berjualan, Syukur masih menyimpan satu harapan yang sederhana: pulang ke Jawa. Ia mengatakan adik perempuannya selalu menunggunya di Jawa. Namun, karena keterbatasan biaya, ia biasanya hanya bisa pulang sekitar satu kali dalam setahun.
“Saya bersyukur masih punya adik perempuan yang selalu menunggu saya di Jawa setiap saya pulang sekali setahun dan selalu menanyakan kabar saya,” katanya.
Selain sang adik, Syukur juga menyebut abang yang membawanya ke Sumatera Barat serta ayah angkatnya di Pesisir Selatan sebagai orang-orang yang selalu menjaga dan melindunginya.
“Yang saya syukuri, saya masih punya abang dan ayah angkat yang selalu menjaga dan melindungi saya,” ujarnya.
Meski telah puluhan tahun tinggal di Sumatera Barat, Syukur mengaku masih merasa sebagai seorang perantau. Baginya, rumah tetap berada di Jawa, tempat adik perempuannya tinggal bersama keluarga kecilnya.
“Saya masih merasa merantau. Rumah menurut saya ada di rumah yang sekarang dihuni adik saya bersama keluarga kecilnya,” tuturnya.
Karena itu, setiap malam saat berjualan, Syukur tidak hanya memikirkan dagangan. Ia juga membayangkan kapan bisa kembali ke Jawa. Jika suatu saat berhasil pulang, ia tidak meminta banyak hal. Ia hanya ingin melihat adiknya dalam keadaan sehat.
“Yang paling saya tunggu melihat dia sehat dan tersenyum,” kata Syukur.
Kini, setelah 14 tahun berjualan putu, Syukur masih menjalani rutinitas yang sama. Selepas Magrib, ia berkeliling hingga sekitar pukul 23.00 WIB dengan sepeda gerobak yang telah digunakannya sejak awal berjualan.
Berbagai pekerjaan telah dilewatinya. Dari kuli angkut, kuli muat pasir, kenek truk pengangkut pasir hingga kuli bangunan. Ia juga telah menghadapi kehilangan kedua orang tua, hidup sebagai perantau hingga kandasnya rumah tangga. Namun, Syukur memilih tetap bekerja dan menjalani hidup dengan apa yang masih dimilikinya.
Baginya, pengalaman hidup mengajarkan satu hal: tetap bersyukur, terutama bagi mereka yang masih memiliki keluarga dan orang yang dapat dipercaya.
“Selalu belajar untuk menerima sesakit dan sesulit apa pun yang sedang menimpamu. Terus belajar untuk bersyukur atas apa pun yang kamu miliki sekarang, apalagi yang keluarganya masih utuh dan punya orang tersayang yang bisa dipercaya di sisi,” kata Syukur.















