Kabarminang – Sawah yang tertutup material sedimentasi akibat rentetan bencana pada akhir 2025 di Korong Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, kini kembali hijau dan subur.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Irawati Febriani, mengatakan, sawah tersebut ditanam serentak pada 13 Mei 2026 dan kini telah berusia sekitar tiga bulan lebih.
“Jika tidak ada kendala, tanaman padi diperkirakan dipanen sekitar satu minggu lagi,” ujarnya saat meninjau langsung areal persawahan tersebut pada Kamis siang (27/8/2026).
Ia mengatakan, pulihnya lahan pertanian di Tanah Taban menjadi salah satu bukti bahwa lahan yang terdampak bencana masih dapat kembali dimanfaatkan melalui penanganan yang tepat dan kolaboratif.
“Pemulihan lahan ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Setelah lahan dipulihkan, kemudian dilakukan penanaman secara serentak,” ujar Irawati.
Ia mengatakan, pemulihan lahan tidak hanya menyasar kondisi fisik, tetapi juga diarahkan untuk memastikan kebutuhan dasar pertanian, terutama ketersediaan air.
Ia melanjutkan, sebelum bencana, petani di kawasan tersebut masih mengandalkan sumur karena belum memiliki jaringan irigasi teknis. Namun, bencana menyebabkan sumur tertimbun sedimentasi sehingga sumber air yang selama ini digunakan petani ikut terdampak.
“Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah memberikan bantuan irigasi perpompaan dan membangun jaringan irigasi tersier. Kita berharap ketersediaan air dapat lebih terjamin sehingga lahan tetap produktif dan petani dapat terus melakukan kegiatan budi daya,” jelasnya.
Irawati merinci luas sawah terdampak bencana di Padang Pariaman mencapai 1.263 hektare. Dari jumlah tersebut, 446 hektare mengalami kerusakan ringan, 238 hektare rusak sedang, 450 hektare rusak berat, sedangkan 100 hektare lainnya dinyatakan hilang.
Ia menyebut, lahan dengan kerusakan ringan, pemulihan dilakukan melalui Program Optimalisasi Lahan atau OPLAH. Sementara itu, dari 238 hektare lahan yang mengalami kerusakan sedang, sebanyak 198 hektare telah selesai direhabilitasi. Kemudian untuk 100 hektare lahan yang dinyatakan hilang masih dalam proses pengusulan untuk mendapatkan dukungan penanganan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
Irawati menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendorong percepatan pemulihan lahan terdampak bencana. Penanganan tidak hanya menyasar rehabilitasi lahan, tetapi juga mencakup perbaikan irigasi dan dukungan sarana produksi pertanian.
“Target kita bukan hanya membuat lahan kembali bisa ditanami, tetapi memastikan lahan tersebut dapat kembali produktif dan memberikan manfaat bagi petani secara berkelanjutan,” tuturnya.
Salah seorang petani, Yusmanidar, mengaku bersyukur karena sawah yang sempat tertutup material sedimentasi kini kembali menghasilkan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah sempat kehilangan kesempatan menggarap lahan akibat bencana.
Meski demikian, ia mengaku masih menghadapi tantangan berupa ketersediaan air yang belum sepenuhnya stabil karena masih bergantung pada curah hujan dan penggunaan pompa.
“Kami berharap pembangunan jaringan irigasi yang sedang dilakukan pemerintah diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi petani,” tuturnya.















