Dalam kondisi panik, Rini akhirnya keluar melalui jalur samping rumah tetangga. Ia pergi ke Markas Polresta Padang untuk membuat laporan.
“Setelah melapor, saya diarahkan menjalani visum atas luka yang saya alami,” ujarnya.
Rini mengaku masih takut setelah kejadian tersebut. Ia menyebut ancaman masih terus diterimanya hingga setelah laporan dibuat.
“Kejadiannya malam 30 Mei. Sampai sekarang saya masih merasa takut karena mereka terus mengancam dan menyalahkan saya. Mereka mengatakan akan tetap mencari saya, baik di pasar maupun di rumah,” ujarnya.
Latar belakang penganiayaan dan perusakan rumah
Menurut Rini, para pelaku melakukan penganiayaan dan perusakan rumah karena dipicu oleh teguran suaminya kepada anak pelaku. Ia menceritakan bahwa pada Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, saat suaminya mandi di kamar mandi rumah mereka yang berada dekat dengan jalan umum, sejumlah anak-anak, yang menurutnya merupakan anak dan kerabat perempuan berinisial F berkumpul di sekitar kamar mandi sambil berteriak dan membuat kegaduhan.
“Suami saya sedang mandi. Posisi kamar mandi menghadap ke jalan dan ada ventilasi di bagian atas. Saat itu ada rombongan anak-anak yang bermain sambil berteriak-teriak dan melongok ke arah kamar mandi. Tingkah laku anak-anak tersebut membuat suami saya terganggu karena berada terlalu dekat dengan kamar mandi. Suami saya sempat menegur mereka. Namun, teguran itu tidak dihiraukan. Mereka malah menggedor dan mendorong pintu kamar mandi,” ujarnya.
Setelah itu, kata Rini, suaminya mengusir anak-anak tersebut dan menyiramkan cipratan air agar mereka menjauh dari area kamar mandi.
Tidak lama berselang, kata Rini, anak-anak itu mengadu kepada orang tua mereka. Ia menyebut bahwa F kemudian datang ke rumahnya untuk meminta pertanggungjawaban atas peristiwa tersebut.
















