Kabarminang – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) mengungkapkan rencana untuk menyeleksi hingga menutup sejumlah program studi (prodi) di perguruan tinggi.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja di masa depan.
Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan evaluasi terhadap prodi akan segera dilakukan dalam waktu dekat.
“Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup,” ujarnya dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026, Kamis (23/4/2026).
Menurut Badri, pemerintah akan menyusun kembali daftar program studi yang benar-benar dibutuhkan ke depan. Kajian tersebut juga melibatkan program Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).
Saat ini, komposisi pendidikan tinggi dinilai tidak seimbang. Data menunjukkan sekitar 60 persen prodi berada di bidang ilmu sosial, dengan dominasi pada jurusan kependidikan atau keguruan.
Ketimpangan ini berdampak langsung pada pasar kerja.
Setiap tahun, sekitar 490.000 lulusan kependidikan dihasilkan. Namun, lowongan yang tersedia untuk guru dan fasilitator taman kanak-kanak hanya sekitar 20.000 posisi.
“Jadi yang 470.000 tidak punya pekerjaan,” kata Badri.















