Ia menilai kondisi ini menjadi tantangan serius di tengah upaya Indonesia memanfaatkan bonus demografi.
Menurutnya, jika lulusan perguruan tinggi tidak disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi masa depan, maka peluang menjadi negara maju bisa terhambat.
Badri juga menyoroti pola pembukaan prodi di Indonesia yang cenderung mengikuti tren pasar.
“Perguruan tinggi yang ada di Indonesia sebagian besar menggunakan market driven strategy. Yang lagi laris apa dibuka, kemudian terjadi oversupply,” ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan potensi kelebihan tenaga di sektor lain. Berdasarkan data yang ditelaah, Indonesia diperkirakan bisa mengalami kelebihan pasokan dokter pada 2028, mengacu pada standar minimal Bank Dunia.
Kondisi tersebut berisiko semakin kompleks jika terjadi ketimpangan distribusi tenaga medis antar daerah.















