Kabarminang — Sekitar 30 orang Suku Anak Dalam (SAD) mendatangi rumah warga di Jorong Sungai Bungur, Nagari Padukuan, Kecamatan Koto Salak, Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar), pada Rabu (22/4/2026) pagi. Enam orang di antara mereka mengeroyok seorang pria.
Kepala Jorong Sungai Bungur, Sunarno, menceritakan bahwa persoalan itu bermula dari enam anak SAD yang mengambil durian tanpa izin di ladang milik warga bernama Jimel (57 tahun) dan Ratna (50 tahun). Sekitar pukul 7.00 WIB Ratna mencari durian yang jatuh di ladang di seberang rumahnya dan melihat enam anak SAD mengambil duriannya. Dua orang di antara mereka merupakan laki-laki berusia sekitar 18 hingga 19 tahun, sedangkan empat orang lagi merupakan perempuan berusia di bawah 15 tahun dan di bawah 15 tahun.
“Bu Ratna melihat enam anak SAD memasukkan banyak durian ke dalam sebuah karung. Dia lalu meminta anak SAD untuk meninggalkan karung itu, lalu memberi tiap anak SAD dua durian. Tapi, enam anak SAD itu tidak mau dan bersikap seolah-olah mengejek Bu Ratna dalam bahasa SAD yang tidak dipahami oleh Bu Ratna. Menurut hukum mereka, mengambil buah yang jatuh di tanah bukanlah mencuri karena buah yang jatuh adalah milik Tuhan sehingga menjadi milik bersama dan boleh diambil. Yang mereka sebut mencuri adalah mengambil buah di atas pohon. Sementara itu, Bu Ratna biasanya mengumpulkan durian untuk dijual,” tutur Sunarno kepada Sumbarkita pada Kamis (23/4/2026).
Akhirnya, kata Sunarno, situasi memanas sehingga Ratna emosi dan mengambil kayu untuk menakut-nakuti anak SAD sehingga mereka lari. Salah satu di antara mereka, kata Sunarno, tersandung akar, lalu terjatuh dan punggungnya merah.
Kemudian, kata Sunarno, enam anak SAD itu kembali ke tenda keluarga mereka di ladang sawit warga di Nagari Ampalu, dekat perbatasan dengan Nagari Padukuan.
Sekitar pukul 8.00 WIB, kata Sunarno, sekitar 30 orang SAD, laki-laki dan perempuan, termasuk enam anak yang tadi mengambil durian, mendatangi rumah Ratna dan Jimel dengan sepeda motor sambil membawa senapan jenis balansa (gobok), parang, dan kayu. Melihat kedatangan orang-orang tersebut, Ratna masuk ke dalam rumah. Lalu, suaminya keluar rumah untuk menemui orang-orang tersebut.
“Setibanya di luar rumah, Pak Jimel dikeroyok oleh enam anak yang tadi mengambil durian. Sementara itu, orang dewasa SAD mengawasi enak anak mengeroyok Pak Jimel. Akibat pukulan itu, bibir Pak Jimel berdarah dan kepala belakangnya benjol. Kemudian, seorang anak perempuan dari enam anak itu memecahkan kaca rumah Pak Jimel dengan tangan sehingga tangannya berdarah, lalu dijahit di puskesmas dengan empat jahitan,” ucap Puji.
Sunarno mengatakan bahwa belakangan diketahui bahwa enam anak itu mengadu kepada keluarga mereka bahwa mereka dipukul oleh Ratna, padahal punggung salah satu di antara anak itu merah karena ia terjatuh tersandung akar kayu.
















