Persetubuhan ketiga, kata Iqbal, juga terjadi di rumah korban. Pada November 2025 EK datang ke rumah itu untuk mengobati ibu korban dengan cara seperti biasanya. Setelah selesai memijat kaki dan tangan ibu korban, EK berkata kepada korban “Yoklah mengobati ibu” dengan maksud mengajak korban berhubungan badan. Karena ingat akan janji EK bahwa ibu korban akan sehat jika dirinya bersetubuh tiga kali dengan si dukun, korban pun mau menuruti ajakan EK untuk melakukan hubungan terlarang tersebut di kamarnya.
Kemudian, pada hari lain pada November 2025 sekitar pukul 13.00 WIB, kata Iqbal, korban mendatangi EK di pondok tempat dukun itu tinggal di sebuah ladang. Korban bercerita kepada EK bahwa ia tidak lagi datang bulan. EK lalu berkata kepada korban bahwa mungkin hal itu terjadi karena memang telat datang bulan biasa, bukan karena hamil.
Di tempat itu, kata Iqbal, EK mengajak korban untuk berhubungan badan. Namun, korban menolak karena hal itu tidak menyembuhkan ibunya.
“Setelah korban tiga kali berhubungan badan dengan EK, ibunya masih sakit stroke dan tidak ada perubahan,” ucap Iqbal.
Karena korban menolak ajakan untuk berhubungan badan itu, kata Iqbal, EK menarik korban yang sedang duduk di depan pondok, lalu membawa masuk korban ke dalam pondok. EK mengancam korban dengan mengatakan bahwa jika korban tidak mau berhubungan badan dengannya, ibu korban tidak akan sembuh dan ia akan membuat korban menjadi gila. Setelah mendengar ancaman itu, korban tetap tidak mau berhubungan badan dengan EK. Lantaran korban menolak, EK memperkosa korban dengan cara memaksa korban untuk tidur dan memegang tangannya.
Korban hamil
Meskipun telat datang bulan, kata Iqbal, korban tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk memastikan apakah ia hamil atau tidak. Namun, katanya, korban berfirasat bahwa ia hamil karena merasa badannya sering letih dan makin lama perutnya makin besar.
“Korban merasakan gerik-gerik dalam perutnya,” tutur Iqbal.
Iqbal mengatakan bahwa korban menyembunyikan kehamilannya dari siapa pun. Karena itu, katanya, tidak ada seorang pun yang mengetahui, bahkan keluarganya, bahwa korban sudah bunting.




















