Berdasarkan status pekerjaan utama, kelompok buruh, karyawan, atau pegawai mendominasi dengan proporsi 31,76 persen. Berikutnya, penduduk yang berusaha sendiri sebesar 21,98 persen dan kelompok berusaha dibantu buruh tidak tetap atau pekerja keluarga tidak dibayar sebesar 17,24 persen.
Sementara itu, kegiatan informal masih mendominasi struktur ketenagakerjaan di Sumatera Barat. BPS mencatat sebanyak 1,95 juta orang atau 64,19 persen penduduk bekerja berada di sektor informal. Adapun pekerja formal mencapai 1,09 juta orang atau 35,81 persen.
Dari sisi pendidikan, penduduk bekerja masih didominasi lulusan SD ke bawah dengan proporsi 29,14 persen atau 884,17 ribu orang. Posisi berikutnya ditempati lulusan SMA dengan persentase 24,41 persen.
“Pendidikan pekerja kita masih didominasi tamatan SD ke bawah, disusul tamatan SMA sebesar 24,41 persen,” terangnya.
Berdasarkan jumlah jam kerja, sebanyak 60,50 persen penduduk bekerja atau masuk kategori pekerja penuh, yakni bekerja lebih dari 35 jam dalam seminggu. Sementara itu, pekerja tidak penuh mencapai 39,50 persen. Dari kelompok tersebut, sebanyak 12,72 persen tergolong setengah pengangguran.
Untuk karakteristik pengangguran, TPT laki-laki tercatat sebesar 5,25 persen atau meningkat 0,07 persen poin dibandingkan Agustus 2025. Sementara itu, TPT perempuan sebesar 6,03 persen atau turun 0,21 persen poin.
“Angka pengangguran perempuan mengalami perbaikan dengan tren penurunan yang cukup baik,” ungkap Hasanudin.
Berdasarkan wilayah tempat tinggal, pengangguran di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan. TPT perkotaan tercatat sebesar 6,24 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 4,66 persen.

















