“Kita harus apresiasi para penulis dan siapapun yang mendorong peningkatan literasi di Kota Padang,” katanya.
Menurutnya, perpustakaan harus menjadi ruang hidup bagi masyarakat, bukan sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan wadah interaksi dan pengembangan literasi.
Dalam program tahun ini, Pemko Padang memfasilitasi enam penulis untuk menerbitkan dan mempublikasikan buku, termasuk penyelenggaraan kegiatan peluncuran. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat pada tahun mendatang hingga sekitar 60 penulis.
“Tahun depan kita meminta lebih kurang 60, karena ini permintaan dari yang hadir. 60 penulis akan kita bantu penerbitannya,” katanya.
Selain itu, kegiatan literasi akan diperluas ke berbagai lokasi, seperti youth center, perpustakaan, hingga kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang siap terlibat sebagai reviewer buku.
“Pihak yang terlibat dalam kegiatan itu bakal di fasilitasi baik itu makan, minum silahkan, nanti bisa dilaksanakan di daerah youth center, perpustakaan, dan juga dari kantor PWI yang dekat dari sini pun juga sudah berniat untuk menjadi salah satu reviewer dari buku-buku itu,” ujarnya.
Melalui festival ini, Pemko Padang berharap literasi tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
















