Kabarminang — Suasana khidmat prosesi wisuda ke-85 Universitas Bung Hatta pada Sabtu (25/4/2026) di kampus I, Ulang Karang, Padang, berubah menjadi momen penuh haru. Di antara 515 wisudawan dari 39 program studi yang dikukuhkan terselip satu nama mahasiswi yang perjuangannya dituntaskan oleh kedua orang tuanya di atas podium.
Mahasiswi tersebut ialah Siti Azzahra, dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Ia meninggal semingu yang lalu karena suatu penyakit. Dalam wisuda itu namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan sarjana.
Perempuan kelahiran Duri, 22 Maret 2001, itu berhasil menyelesaikan studinya dengan indeks prestasi kumulatif 3,53. Namun, Siti tidak hadir secara fisik dalam acara itu. Kedua orang tuanya, Januar dan Erliningsih, melangkah tegar menggantikan posisi sang putri untuk menerima ijazah.
Januar dan Erliningsih mengungkapkan bahwa mereka mengikuti prosesi wisuda itu demi menghormati dedikasi Siti selama menempuh pendidikan. Bagi mereka, wisuda merupakan garis finis dari perjuangan panjang putri tercinta.
“Kami ingin semuanya sampai akhir. Walaupun anak kami sudah tidak ada, kami tetap berjuang sampai akhir. Itu bentuk perjuangan kami sebagai orang tua,” ucap Erliningsih dengan haru.
Bagi Januar, perasaan saat menaiki podium wisuda bercampur aduk antara duka mendalam dan kebanggaan yang luar biasa. Menurutnya, sulit bagi orang tua mana pun untuk menahan kesedihan di tengah momentum yang seharusnya dirayakan bersama.
“Siapa yang tidak bersedih? Tapi, di antara kesedihan itu ada kebahagiaan juga, dan di antara kebahagiaan itu ada kesedihan,” katanya.
Cita-cita mulia sang calon guru
Menurut Januar, Siti Azzahra dikenal sebagai sosok yang memiliki kecintaan luar biasa pada dunia pendidikan anak-anak. Ia mengatakan bahwa sejak dulu, Siti bercita-cita menjadi seorang guru sekolah dasar karena pembawaannya yang lembut dan penyayang.















