“NH bersama temannya itu bermain air, saling siram menyiram. Malahan air satu galon itu habis untuk bermain aja sama mereka,” tuturnya.
Ia menegaskan, pihak sekolah juga tidak menemukan bukti lain yang mengarah pada dugaan perundungan. Menurutnya, sekolah memiliki delapan kamera pengawas (CCTV), tetapi tidak ada rekaman yang menunjukkan adanya tindakan perundungan terhadap NH.
“Bukti-bukti lain juga tidak ada yang ditemukan dugaan perundungan itu. Di sekolah ada delapan CCTV, tidak ada rekaman yang menunjukkan adanya perundungan,” katanya.
Terkait kabar meninggalnya NH, Siptah mengatakan dirinya baru menerima informasi tersebut pada Jumat (24/7/2026) pagi. Meski demikian, pada hari korban meninggal, perwakilan guru telah datang melayat ke rumah duka.
“Di hari meninggal perwakilan guru sudah datang melayat ke rumah NH, kemudian di hari Jumat baru saya bersama beberapa guru dan wali murid juga pergi melayat lagi ke rumah duka,” tuturnya.
Siptah kembali menegaskan bahwa pihak sekolah tidak menemukan adanya tindakan perundungan di lingkungan SDN 33 Rawang, termasuk dugaan yang dikaitkan dengan meninggalnya NH.
Ia mengatakan sekolah selama ini telah berupaya mencegah terjadinya perundungan dengan meminta seluruh guru mengawasi aktivitas para siswa.
“Selama ini tidak ada perilaku perundungan di sekolah. Malahan pihak sekolah sudah mengantisipasinya dan meminta setiap guru-guru selalu mengawasi aktivitas siswa,” ujarnya.















