Dengan harga tertinggi tersebut, pembeli harus mengeluarkan tambahan hingga Rp45.000 untuk setiap karung. Kenaikan ini setara sekitar 25,7 persen dibandingkan harga sebelumnya.
Menurut Rudi, persoalan yang dihadapi pedagang bukan hanya kenaikan harga. Ketersediaan sejumlah jenis tepung juga mulai terbatas karena barang semakin sulit diperoleh dari pemasok.
“Sekarang bukan hanya harganya yang mahal, beberapa jenis tepung juga mulai sulit didapat. Kami sebagai pedagang tentu harus menyesuaikan dengan harga barang yang masuk dari pemasok,” katanya.
Kondisi tersebut turut memengaruhi perilaku pembeli. Eka Putra, pemilik toko grosir lainnya di Jalan Prof. Mahmud Yunus, mengatakan banyak pelanggan terkejut ketika mengetahui perubahan harga tepung.
Keluhan terutama datang dari pelaku usaha makanan seperti pedagang cilok, bakso, dan berbagai jenis makanan lainnya yang mengandalkan tepung sebagai bahan baku produksi.
“Banyak pembeli yang kaget ketika mengetahui harga tepung sekarang. Apalagi kebanyakan pelanggan kami pedagang cilok, bakso, dan usaha makanan lainnya. Mereka tentu merasakan dampaknya karena tepung merupakan bahan yang dibutuhkan untuk usaha sehari-hari,” kata Eka Putra.
Ia menyebut, kenaikan harga membuat sebagian pelanggan harus mengatur kembali anggaran belanja bahan baku. Ada yang masih membeli dalam jumlah seperti biasanya, tetapi tidak sedikit yang mengurangi pembelian agar modal usaha tetap mencukupi.
Dampaknya juga dirasakan pedagang grosir. Eka mengatakan, jumlah penjualan tokonya ikut menurun seiring berkurangnya volume pembelian sebagian pelanggan.






















