Kabarminang — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) mengkritik keras kinerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar yang dinilai gagal mencegah tingginya konflik antara manusia dan harimau sumatera akibat pembiaran kerusakan hutan.
Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, menyatakan bahwa pendekatan BKSDA selama ini salah kaprah karena hanya fokus mengevakuasi harimau setelah konflik terjadi. Menurutnya, instansi tersebut sangat pasif dan minim melakukan tindakan pencegahan di lapangan.
“BKSDA Sumbar itu kerjanya reaktif, baru bergerak kalau sudah ada masalah. Mereka sibuk pasang kandang jebak dan evakuasi harimau, tapi lupa mencegah akar masalahnya, yaitu hancurnya habitat hutan,” katanya kepada Sumbarkita beberapa waktu lalu.
Tommy mengatakan bahwa investigasi Walhi Sumbar menemukan 25 titik kerusakan hutan terbuka di Suaka Margasatwa Bukit Barisan dengan luas bervariasi antara 1 hingga 5 hektare. Selain itu, katanya, kawasan Cagar Alam Maninjau terpantau sudah banyak beralih fungsi menjadi perkebunan sawit ilegal.
Berdasarkan undang-undang konservasi, kata Tommy, BKSDA memiliki kewenangan penuh untuk menjaga kawasan tersebut. Menurutnya, temuan kerusakan lahan itu menjadi bukti bahwa instansi tersebut abai terhadap tugas pokok dan fungsinya.
“Kami temukan 25 titik hutan botak di Suaka Margasatwa Bukit Barisan dan kebun sawit ilegal di Cagar Alam Maninjau. BKSDA punya kuasa penuh menjaga area itu, tapi kenapa hutan kita bisa jebol dan dirusak?” ujarnya.
Menanggapi tudingan itu, Kepala BKSDA Sumbar, Hartono, membantah bahwa pihaknya hanya bertindak saat konflik sudah pecah atau ketika satwa liar tersebut masuk ke wilayah permukiman warga. Ia menyebut, pihaknya telah melakukan langkah antisipasi berupa edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan dan hal itu telah menjadi agenda rutin.
“Kritikan dari rekan-rekan WALHI tidak sepenuhnya benar. Kami tidak hanya reaktif setelah ada konflik, tetapi sosialisasi pencegahan sudah lama kami lakukan secara masif,” ujarnya kepada Sumbarkita, Selasa (16/6/2026).
















