Ia melanjutkan, BKSDA tidak melakukan sosialisasi dan pengawasan di lapangan sendiri, melainkan berkolaborasi dengan kelompok masyarakat lokal untuk memaksimalkan pengawasan berbasis komunitas.
“Dalam pelaksanaannya, kami berkolaborasi erat dengan Patroli Anak Nagari atau PAGARI. Kelompok ini menjadi garda terdepan di tingkat nagari untuk memantau pergerakan satwa,” jelasnya.
Terkait sorotan mengenai kerusakan habitat harimau, Hartono tidak menampik bahwa cuaca ekstrem dan bencana alam dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi ruang gerak satwa dilindungi tersebut.
“Jika bicara soal habitat yang terganggu akibat bencana hidrometeorologi, hal itu mungkin saja terjadi. Kami mencatat ada koridor habitat satwa yang terputus di kawasan konservasi Bukit Barisan,” ujarnya.
Ia melanjutkan, saat ini BKSDA Sumbar bersama PAGARI terus menyisir wilayah-wilayah rawan konflik guna memberikan rasa aman kepada warga sekaligus menjaga kelestarian harimau sumatera.
“Kami juga terus mengintensifkan komunikasi dengan perangkat nagari untuk mengantisipasi munculnya potensi konflik baru,” ujarnya.
Ia mengatakan, harimau sumatera kini tidak hanya berada di dalam kawasan hutan, tetapi juga memasuki area di luar kawasan hutan. Ia juga mengimbau para peternak untuk mengubah pola pemeliharaan hewan ternak dengan sistem yang lebih aman, yakni mengandangkan hewan ternak di kandang yang kokoh serta menempatkannya jauh dari batas kawasan hutan.
“Selain itu, kami juga mengimbau warga untuk tidak beraktivitas sendirian di hutan dan selalu waspada. Jika terpaksa ke ladang, lakukanlah secara berkelompok,” katanya.
















