“Kan PO, sesuaikan barang, kirim,” ujarnya.
Jengkol Dipilih dan Disortir Satu per Satu
Jengkol yang diekspor Ilham tidak dipilih secara sembarangan. Ia menggunakan jengkol yang sudah tua, ditandai dengan kulit berwarna cokelat, dengan ukuran sekitar 60 hingga 70 buah per kilogram.
Bahan baku diperoleh dari Pariaman dan sejumlah daerah lain di Sumatera Barat. Lokasi pembelian dapat berubah mengikuti musim karena jengkol merupakan tanaman yang berbuah secara musiman.
Setelah dibeli, jengkol dibawa ke gudang di kawasan Pasar Pagi, Rimbo Kaluang, Padang. Di sana, jengkol dikupas dan disortir satu per satu sebelum dikemas untuk dikirim ke Jepang.
Proses penyortiran dilakukan secara teliti. Ilham memeriksa kondisi jengkol, termasuk bagian dalamnya untuk memastikan tidak terdapat ulat maupun kerusakan. Jengkol kemudian dikemas dengan metode vacuum press dan disusun ke dalam kotak sesuai standar pengiriman.
Seluruh proses, mulai dari pembelian bahan baku hingga jengkol siap dikirim, membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Jengkol yang tidak memenuhi kriteria ukuran ekspor juga tidak langsung dibuang. Ilham mengolahnya menjadi kerupuk jengkol yang kemudian dijual di Pasar Raya Padang.
“Yang tidak lulus ukuran, dibuat untuk kerupuk jengkol,” katanya.















