Kabarminang — Selisih nilai barang yang dijual Sumatera Barat (Sumbar) ke luar negeri dengan barang yang dibeli dari luar negeri selama Januari hingga Juli 2026 turun menjadi US$1.241,93 juta. Penurunan itu terjadi karena nilai impor, terutama bahan baku dan bahan penolong, meningkat tajam.
“Meskipun angka ekspor kita tumbuh positif, surplus perdagangan daerah menyusut dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$1.306,56 juta,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, pada Selasa (1/9/2026).
Hasanudin menjelaskan bahwa nilai semua barang yang diimpor Sumbar naik 139,19 persen dan menjadi penyebab utama turunnya surplus perdagangan.
“Secara akumulatif, nilai impor Sumbar dari Januari hingga Juli 2026 telah menembus angka US$695,15 juta,” ujar Hasanudin.
Menurut Hasanudin, kenaikan impor tersebut terutama berasal dari bahan baku dan bahan yang digunakan untuk mendukung proses produksi. Nilai impor kelompok barang tersebut naik 181,93 persen.
“Impor bahan baku serta penolong mencatatkan porsi terbesar dengan nilai transaksi mencapai US$575,55 juta,” ungkap Hasanudin.
Ia menyebut bahwa bahan bakar mineral menjadi barang yang paling banyak diimpor Sumatera Barat. Jenis barang tersebut menyumbang 82,79 persen dari seluruh impor Sumbar.
Singapura menjadi negara asal barang impor terbesar bagi Sumbar dengan kontribusi 59,68 persen.















