Kabarminang — Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang menggelar Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) dengan tema “Gerakan Ruang Aman dan Nyaman Anak (RANA) pada Madrasah Hebat Bermartabat” di Hotel Rocky Bukittinggi pada Rabu (2/9/2026).
NGOPI merupakan program dialog interaktif dan wadah aspirasi yang diinisiasi Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia bekerja sama dengan Komisi VIII DPR RI serta perguruan tinggi keagamaan Islam. Program tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pendidikan dalam membahas isu-isu strategis pendidikan Islam sekaligus menyerap aspirasi dan pengalaman dari para pelaku pendidikan di lapangan.
Ketua Panitia NGOPI, Yasmadi, menyampaikan bahwa NGOPI dilaksanakan di sejumlah daerah di Sumatera Barat, meliputi Padang, Pesisir Selatan, Solok, Kota Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Sawahlunto, Dharmasraya, Mentawai, dan Padang Panjang. Setiap sesi NGOPI diikuti sekitar 250 peserta, dengan peserta yang diutamakan berasal dari kalangan guru, tenaga kependidikan (GTK), serta unsur terkait di lingkungan Kemenag.
Pada pelaksanaan di Bukittinggi, NGOPI mengangkat isu Gerakan Ruang Aman dan Nyaman Anak (RANA) pada Madrasah Hebat Bermartabat sebagai bagian dari upaya mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Martin Kustati. Ia menegaskan bahwa madrasah tidak hanya dituntut memberikan pendidikan akademik, tetapi juga harus mampu menjadi ruang yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak.
“Madrasah harus menjadi tempat di mana anak merasa diterima, dihargai, didengar, dilindungi, dan dibimbing,” ujar Martin.
Menurutnya, ruang aman dan nyaman bagi anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik madrasah, tetapi juga dengan budaya yang dibangun di dalam lingkungan pendidikan.
Martin menyampaikan bahwa madrasah perlu membangun budaya yang bebas dari kekerasan, perundungan (bullying), diskriminasi, pelecehan, intimidasi, serta berbagai bentuk perlakuan yang dapat melukai fisik maupun psikologis anak.
Martin juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam mewujudkan Gerakan RANA. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pelindung, pendamping, teladan, sekaligus sahabat bagi anak.
Sementara itu, Martin mengharapkan kepala madrasah mampu menjadi pemimpin yang membangun ekosistem pendidikan yang aman dan sehat.
“Anak datang ke madrasah dengan rasa aman, belajar dengan rasa nyaman, berkembang dengan rasa percaya diri, dan pulang dengan membawa harapan,” ucap Martin.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh tiga narasumber. Kepala Kantor Kemenag Padang Panjang, Mukhlis M.membahas tata kelola madrasah bermartabat. Materi selanjutnya disampaikan oleh Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Padang, Khurnia Eva Nila Sari. Ia menyampaikan materi tentang membangun ekosistem well-being di madrasah, pembelajaran bermakna, dan pembelajaran yang membahagiakan. Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi VIII Dapil I Sumbar, Lisda Hendrajoni, memberikan turut perspektif dalam kegiatan tersebut, khususnya terkait penguatan pendidikan, perlindungan anak, dan masa depan generasi bangsa.
Melalui NGOPI, berbagai gagasan dan aspirasi dari para guru, tenaga kependidikan, pimpinan madrasah, serta pemangku kepentingan pendidikan diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan kebijakan dan praktik pendidikan Islam.
Bagi UIN Imam Bonjol Padang, forum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi keagamaan Islam dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada perlindungan, kesehatan sosial-emosional, dan pembentukan karakter peserta didik.
















