Kabarminang – Sebanyak 65 persen dari total luas wilayah Sumatera Barat yang mencapai 4,2 juta hektare memiliki kelerengan curam hingga sangat curam. Kondisi topografi tersebut dinilai meningkatkan kerentanan daerah terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat memasuki puncak musim hujan.
Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera Barat, Isril Berd, mengingatkan bahwa ancaman bencana tidak hanya dipengaruhi oleh cuaca ekstrem, tetapi juga kondisi bentang alam, kerusakan tutupan hutan, dan alih fungsi lahan yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air.
Isril menyampaikan hal itu pada Kamis (22/10/2026), menyusul prakiraan dinamika atmosfer dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau yang berpotensi memicu cuaca ekstrem mulai akhir Oktober hingga Desember, bahkan dapat berlanjut sampai Maret.
“Kami sangat mengapresiasi pemetaan dari BMKG, tetapi hal mendesak yang harus kita perhatikan saat ini adalah kondisi bentang alam atau lanskap Sumatera Barat yang kian mengkhawatirkan,” ujar Isril.
Guru Besar Universitas Gunadarma tersebut menjelaskan, Sumatera Barat memiliki lebih dari 134 daerah aliran sungai (DAS), baik besar maupun kecil. Sejumlah DAS, di antaranya Kampar, Batanghari, dan Sumani, menghadapi ancaman ketika curah hujan berintensitas tinggi meningkatkan debit air dan tekanan terhadap lingkungan di sekitarnya.
Ia mengimbau masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai maupun di lereng tebing curam agar segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat aman ketika cuaca ekstrem melanda, terutama jika muncul tanda-tanda bahaya seperti kenaikan debit sungai secara cepat, retakan tanah, atau pergerakan lereng.
Debit banjir bisa melampaui kapasitas sungai
Isril mencontohkan banjir yang terjadi pada 11 Mei 2024. Saat itu, hujan dengan intensitas 130 milimeter di kawasan Gunung Marapi memicu debit banjir hingga 400,3 meter kubik per detik di wilayah lembah.
Menurut dia, kapasitas tampung sungai saat kejadian tersebut hanya 114,6 meter kubik per detik. Kondisi itu menunjukkan besarnya tekanan aliran air terhadap sungai dan kawasan permukiman di sekitarnya.

















