“Kala itu daya tampung sungai hanya 114,6 meter kubik per detik, sehingga kelebihan air mencapai 190,3 meter kubik per detik dan menciptakan daya hantam luar biasa yang merusak bangunan di sekitarnya,” tutur Isril.
Ia menjelaskan, banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat merupakan dampak dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari struktur tanah, intensitas hujan, kondisi hidrologi, hingga topografi wilayah.
Dari sisi mekanika tanah, air hujan yang meresap ke dalam pori-pori tanah dapat meningkatkan kejenuhan tanah dan melemahkan bidang luncur di lereng. Ketika kondisi tersebut terjadi pada lereng curam, potensi pergerakan tanah menjadi lebih besar.
“Ketika tanah di bidang luncur mulai jenuh, guncangan angin pada pepohonan di atas lereng curam akan memperbesar getaran dan mempercepat gerakan tanah longsor ke bawah,” kata Isril.
Alih fungsi lahan memperbesar risiko bencana
Selain faktor alam, Isril menyoroti kerusakan tutupan lahan akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan dalam skala besar. Ia menyebut luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat telah mencapai sekitar 400.000 hektare.
Menurut Isril, perubahan tutupan lahan dapat mengurangi kemampuan kawasan hulu menyerap dan menahan air hujan. Akibatnya, lebih banyak air mengalir langsung ke permukaan dan masuk ke sungai dalam waktu singkat.
Ia mencontohkan luapan air di kawasan Air Terjun Lembah Anai yang dikaitkannya dengan perubahan fungsi lahan di hulu Batang Lurah, Kecamatan Singgalang.
“Alih fungsi di hulu membuat rasio limpasan air melonjak hingga mendekati 0,7 dari kondisi normal 0,2, sehingga air hujan langsung meluncur di permukaan menuju aliran sungai,” ungkap Isril.

















