Kabarminang – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat mengklaim desain rehabilitasi Jalan Lembah Anai kini lebih kuat menghadapi bencana dibandingkan konstruksi sebelumnya. Perubahan desain dilakukan setelah pemerintah mengevaluasi kerusakan akibat galodo pascaerupsi Gunung Marapi pada 2024 dan banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada akhir 2025.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah I BPJN Sumbar, Andi Rusli, mengatakan hasil evaluasi terhadap dua bencana tersebut menjadi dasar perubahan desain pada sejumlah titik rehabilitasi jalan.
Menurutnya, karakter bencana yang terjadi pada 2024 dan 2025 berbeda sehingga penanganan konstruksi juga harus disesuaikan dengan kondisi lapangan serta rekomendasi dari para ahli.
“Akibat bencana alam 2024 dan 2025, kita belajar. Ini kejadiannya bukan dari satu sumber. Tahun 2024 itu erupsi Gunung Marapi, sementara 2025 itu bencana banjir bandang akibat curah hujan yang begitu tinggi,” kata Andi kepada Sumbarkita, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, salah satu perubahan utama dilakukan pada dimensi borepile atau tiang tanam yang menjadi pondasi utama penahan badan jalan di sisi aliran Sungai Batang Anai. Berdasarkan hasil evaluasi, diameter tiang tanam diperbesar pada sejumlah titik yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.
“Setelah kita sepakati juga, kita belajar dari dampak 2024 dan 2025 ini terhadap alur dan dasar sungai. Masukan dari para ahli juga memang ada sedikit diameter tiang tanam yang kita ubah. Artinya kita perbesar dibandingkan dengan perbaikan pada 2024,” ujarnya.
Andi menegaskan perubahan tersebut tidak diterapkan di seluruh lokasi rehabilitasi, melainkan hanya pada titik-titik yang membutuhkan penguatan konstruksi.
Salah satu titik yang mendapat perubahan desain berada di Kilometer 65, kawasan pendakian Silaiang. Di lokasi tersebut, diameter tiang tanam diperbesar dari 80 sentimeter menjadi 120 sentimeter karena perbedaan elevasi antara dasar sungai dan badan jalan dinilai cukup tinggi.















