“Di KM 65, dekat pendakian Silaiang, memang free standing-nya cukup tinggi. Diameter tiang tanam kita perbesar menjadi 1,2 meter atau 120 sentimeter, sebelumnya 80 sentimeter. Ini karena selisih dasar sungai dan badan jalannya cukup tinggi,” katanya.
Ia menyebutkan, berdasarkan perhitungan teknis, perubahan desain tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketahanan konstruksi apabila debit Sungai Batang Anai kembali meningkat akibat cuaca ekstrem.
“Secara hitungan teknis, tahan. Kita berharap mudah-mudahan bencananya tidak terulang. Cuma hitungan teknisnya, debit banjir atau air yang mengalir di Batang Anai, dengan penambahan besar tiang tanam ini mudah-mudahan tahan,” ujarnya.
Selain memperkuat konstruksi jalan, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi lain berupa pembangunan sabo dam di aliran Sungai Batang Anai. Menurut Andi, rencana tersebut saat ini masih dalam tahap kajian oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Ia mengatakan pembangunan sabo dam merupakan tindak lanjut dari evaluasi bencana yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) V telah membangun sabo dam di kawasan Gunung Marapi setelah bencana pada 2024.
“Sekarang lagi dikaji Kementerian PU untuk pembuatan sabo dam di aliran Sungai Batang Anai di Lembah Anai. Sudah ada beberapa titik yang direkomendasikan di mana sabo dam akan disiapkan. Ini masih dalam kajian,” katanya.
Ia berharap pembangunan sabo dam nantinya mendapat dukungan masyarakat sehingga dapat mengurangi aliran material galodo yang berpotensi mengancam Jalan Lembah Anai.
Sementara itu, rehabilitasi Jalan Lembah Anai akibat banjir bandang pada akhir 2025 telah rampung seluruhnya. BPJN Sumbar mencatat pekerjaan dilakukan pada ruas sepanjang enam kilometer yang mencakup 20 titik kerusakan.















