Kabarminang – Fenomena lingkaran cahaya yang mengelilingi matahari atau disebut halo matahari muncul di langit Kota Padang, Sumatera Barat pada Senin (1/6/2026) siang sekitar pukul 11.18 WIB. Peristiwa alam ini dipastikan merupakan fenomena optik atmosfer biasa dan sama sekali bukan penanda akan terjadinya bencana alam.
Petugas Pelayanan Stasiun Meteorologi Maritim (Stamar) BMKG Teluk Bayur, Hilmi Hasani Samsuri, menjelaskan bahwa fenomena tersebut murni terjadi karena proses fisika di langit. Menurutnya, lingkaran cahaya itu terbentuk dari hasil pembiasan cahaya matahari yang menembus partikel di awan.
“Fenomena halo matahari tersebut merupakan fenomena optik atmosfer. Halo ini terjadi karena adanya pembiasan cahaya matahari oleh kristal es pada awan tinggi seperti cirrus,” ujar Hilmi.
Hilmi menambahkan, kondisi cuaca di Kota Padang yang cenderung terik dan bersih turut mendukung fenomena ini terlihat dengan sangat jelas oleh mata telanjang. Kemunculannya sangat berkaitan dengan jenis awan yang sedang berada di lapisan atas langit Padang siang ini.
“Halo matahari sering terjadi pada saat cuaca cerah. Tampak terdapat awan putih tipis, itu merupakan awan cirrus dan cirrostratus,” kata Hilmi memperjelas kondisi awan saat fenomena berlangsung.
Praktisi GIS Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, turut memaparkan bahwa jutaan kristal es mikroskopis penyusun awan tinggi tersebut berada pada ketinggian sekitar 6 hingga 12 kilometer di atas permukaan Bumi. Kristal es tersebut memiliki bentuk geometris yang unik menyerupai prisma heksagonal.
“Ketika sinar matahari menembus kristal tersebut, cahaya mengalami pembiasan pada sudut tertentu. Hasilnya adalah lingkaran cahaya yang tampak mengelilingi matahari,” ungkap Timtim.
Lebih lanjut, Timtim mengimbau masyarakat agar tidak mengaitkan lingkaran cahaya setinggi 22 derajat dari pusat matahari tersebut dengan potensi gempa bumi atau tsunami di Sumatera Barat. Menurutnya, proses pembentukan fenomena ini sepenuhnya berada di atmosfer luar dan tidak memiliki kaitan dengan aktivitas di dalam kerak bumi.
“Fenomena yang terlihat di langit Padang siang ini bukanlah proses yang berasal dari dalam Bumi. Penyebabnya adalah interaksi antara cahaya matahari dan kristal es, bukan karena aktivitas tektonik ataupun vulkanik,” tutur Timtim.
Timtim juga mengingatkan bahwa halo matahari, gempa bumi, dan tsunami berada dalam rumpun sistem sains yang sepenuhnya terpisah dan tidak saling memengaruhi. Dirinya meminta warga untuk lebih kritis dalam memilah informasi di media sosial agar tidak memicu kepanikan massal.
“Hingga saat ini tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kemunculan halo matahari dapat digunakan sebagai indikator atau alat prediksi gempa bumi maupun tsunami,” tegas Timtim.
Meskipun wilayah Sumatera Barat berada di dekat zona subduksi aktif Lempeng Indo-Australia dan Megathrust Mentawai, Timtim menyatakan kesiapsiagaan harus selalu dipelihara secara rasional. Ia berharap warga tetap fokus pada edukasi mitigasi yang valid dibandingkan memercayai mitos.
“Kesiapsiagaan harus menjadi budaya sehari-hari karena kita memang hidup di wilayah rawan bencana, tetapi semua itu tidak harus dikaitkan karena munculnya halo matahari,” pungkas Timtim.
















