“Ini murni persoalan anak-anak yang selama ini tidak pernah saya gubris. Namun karena saat itu saya melihat sendiri anak saya menangis akibat perbuatan anak Novita Sari, saya spontan memperingatkan anak tersebut agar tidak lagi membuat anak saya menangis. Saya hanya mengayunkan tiga jari ke arah pipinya saat menegur, bukan menampar,” ujarnya.
ID juga mengklaim bahwa istrinya pernah menyampaikan keberatan kepada keluarga pelapor terkait perilaku anak tersebut.
“Perangai anak itu pernah diperingatkan oleh istri saya dan sudah disampaikan langsung ke rumahnya. Namun, menurut saya, tidak ada perubahan,” katanya.
Menurut ID, beberapa saat setelah kejadian di kawasan masjid, Novita Sari bersama suaminya dan Ahmad Adlil mendatangi rumahnya.
“Mereka datang ke rumah saya ketika saya sedang beristirahat sepulang salat Jumat. Mereka masuk sampai ke teras rumah dan mendekati pintu rumah dengan nada tinggi. Saya merasa ditantang dan dihina dengan kata-kata yang tidak pantas,” ujarnya.
Lebih lanjut, ID mengklaim salah seorang dari mereka sempat berupaya mengambil sebatang besi yang berada di dekat rumahnya.
“Menurut yang saya lihat saat itu, ada upaya mengambil bilah besi yang berada di dekat rumah saya. Karena itu, saya merasa terancam,” ujarnya.
Meski demikian, ID mengatakan permasalahan tersebut sebenarnya telah diselesaikan pada hari yang sama melalui mediasi yang dilaksanakan di kantor desa dengan melibatkan kepala desa, tiga kepala dusun, dua dubalang, niniak mamak, kapalo mudo, orang tua kedua belah pihak, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
















