Kabarminang – Nilai tukar Rupiah melemah tajam pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026) dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah dibuka turun 0,32 persen ke Rp17.230 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan berlanjut hingga kurs mencapai Rp17.251 per dolar AS atau melemah 0,44 persen.
Level tersebut menjadi titik terlemah Rupiah sejak Indonesia mencatatkan sejarah moneter modern.
Analis menilai pelemahan dipicu meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman (safe haven), termasuk dolar AS.
Salah satu faktor utama berasal dari ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia yang mengganggu stabilitas pasar energi global.
Ancaman terhadap Selat Hormuz dinilai meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak dunia dan menekan pasar keuangan negara berkembang.
Tekanan tidak hanya terjadi pada Rupiah. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami pelemahan.
Peso Filipina tercatat melemah 0,46 persen, diikuti Baht Thailand 0,33 persen. Sementara itu, Won Korea Selatan dan Ringgit Malaysia masing-masing turun 0,10 persen dan 0,09 persen.
Di sisi lain, Dolar Taiwan menguat 0,11 persen. Yuan China dan Yen Jepang juga mencatat kenaikan terbatas di kisaran 0,06 hingga 0,07 persen, sedangkan Dolar Singapura relatif stabil.
Pelemahan Rupiah ke level baru ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor, terutama pada bahan baku industri dan komoditas pangan.
Pelaku pasar kini menunggu langkah Bank Indonesia untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Dalam jangka pendek, pergerakan Rupiah diperkirakan masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan stabilitas energi global.
















