Penggunaan Pakan Harus Efisien
Di tingkat operasional, Tody menerapkan pemberian pakan secara bertahap sambil memperhatikan respons ikan. Cara tersebut dilakukan untuk memastikan pelet yang diberikan benar-benar dikonsumsi ikan dan tidak terbuang ke dasar kolam.
Dalam usaha budidaya perikanan, efisiensi penggunaan pakan dikenal dengan istilah Feed Conversion Ratio (FCR), yakni perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan pertambahan bobot ikan.
Tody mengatakan, meskipun tidak menggunakan istilah teknis tersebut dalam pekerjaan sehari-hari, mereka tetap menerapkan prinsip efisiensi melalui pengawasan jumlah pakan dan perkembangan ikan.
“Kami tak paham istilah rumit-rumit itu. Tapi hitungan kami di kolam sederhana saja. Kalau pakan masuk satu karung setengah, hasilnya ya harus jadi ikan seberat itu juga,” kata Tody.
Selain mengatur pemberian pakan, kualitas air dan kondisi benih juga menjadi perhatian. Menurutnya, air kolam yang keruh atau berbau dapat memengaruhi nafsu makan ikan. Begitu pula benih yang tidak sehat dan ukurannya tidak seragam berpotensi menghambat pertumbuhan.
“Makanya pakan itu kami kasih sedikit-sedikit sambil dilihat respon ikannya. Air kolam juga harus sering dicek, sebab kalau airnya bau atau keruh, ikan malas makan. Ditambah lagi benihnya harus sehat dan ukurannya seragam sejak pendederan. Kalau benihnya banyak yang mati atau kerdil, pakan mahal yang sudah dibelikan modal Bang Heri jadi sia-sia,” ujarnya.
Di tengah tekanan biaya produksi, Tody berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap stabilitas harga pakan dan harga jual ikan hasil budidaya.
“Harapan kami ini tidak banyak. Tolonglah harga pakan pabrikan ini ada yang mengendalikan, dan harga jual hasil panen kami dijaga. Supaya kami di kolam ini tidak cuma sekadar numpang lewat bertahan hidup, tapi benar-benar bisa bawa hasil yang layak ke rumah,” katanya.


















