Kabarminang – Sejumlah pembudi daya ikan nila di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, meminta perhatian pemerintah terhadap kenaikan harga pakan yang terus membebani usaha mereka. Pasalnya, kenaikan biaya produksi tersebut tidak diikuti peningkatan harga jual ikan saat panen.
Kondisi itu membuat pembudidaya harus memutar otak untuk menjaga usaha tetap berjalan. Salah satunya Heri, pembudidaya ikan nila yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan modal operasional kolam akibat harga pelet yang terus meningkat.
Ia mengatakan, kebutuhan pakan harus tetap dipenuhi selama masa pemeliharaan. Namun, ketika ikan dipanen, harga jual di pasar belum tentu mampu mengimbangi biaya yang telah dikeluarkan.
“Sekarang pakan makin lama makin naik, pelet naik terus, sementara kalau nanti panen, harga ikan di pasar tidak ikut naik. Kalau modal tersendat sedikit saja, urusan operasional langsung goyah semua,” kata Heri, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat keberlangsungan usaha budidaya sangat bergantung pada ketersediaan modal. Bahkan, ia harus mencari pinjaman atau modal talangan agar kebutuhan operasional kolam tidak terhenti.
Di tengah keterbatasan modal, pembudidaya juga harus mengatur penggunaan pakan secara cermat. Akang, yang bertugas mengurus pemberian pakan dan pemilahan benih, mengatakan pelet tidak boleh diberikan secara sembarangan karena harganya semakin mahal.
“Makanya kita tidak boleh asal lempar pelet. Modal dari Bang Heri ini terbatas dan pakannya mahal luar biasa. Kalau asal tebar, pelet bisa terbuang jadi lumpur di dasar kolam. Bukannya dapat untung, yang ada modal Bang Heri malah tekor,” ujar Akang.
Ia menjelaskan, pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit dengan memperhatikan kondisi dan respons ikan. Langkah itu dilakukan untuk menghindari pemborosan sekaligus memastikan pakan yang diberikan benar-benar dikonsumsi ikan.





















