Kabarminang – Suasana haru menyelimuti prosesi Wisuda ke-85 Universitas Bung Hatta (UBH), Kota Padang, Sabtu (25/4/2026). Nama Siti Azzahra dipanggil di tengah ratusan wisudawan, namun tak ada sosok yang maju ke depan. Sebagai gantinya, kedua orang tuanya melangkah menuju podium untuk menerima ijazah sang putri yang telah wafat.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam wisuda yang diikuti 515 wisudawan. Siti Azzahra, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) kelahiran Duri, 22 Maret 2001, diketahui telah menyelesaikan studinya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,53. Namun, ia meninggal dunia sebelum sempat mengikuti prosesi wisuda.
Ayah dan ibu almarhumah, Januar dan Erliningsih, dengan tegar mewakili putrinya menerima ijazah sebagai tanda kelulusan dan dedikasi Siti selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Prosesi Wisuda In Absentia
Ketua Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Bung Hatta (YPBH), Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, menjelaskan, almarhumah tetap diwisuda karena secara yuridis akademik telah memenuhi seluruh persyaratan kesarjanaan.
“Terkait salah seorang mahasiswa kami yang telah meninggal dunia, pada hari ini almarhum tetap diwisuda karena seluruh proses akademik dan administrasi kesarjanaannya telah selesai. Dalam data registrasi, almarhum telah terdaftar sebagai sarjana,” jelasnya di hadapan awak media.
Ia menambahkan, universitas melaksanakan prosesi secara in absentia atau wisuda tanpa kehadiran mahasiswa yang bersangkutan, sebagai bentuk penghormatan atas tuntasnya perjuangan Siti di bangku perkuliahan.
“Mudah-mudahan arwah almarhum diterima di sisi Allah SWT. Kepada orang tua dan keluarga yang ditinggalkan, kami turut berduka cita dan berharap diberikan kesabaran serta keikhlasan,” ungkap Nizwardi.
Apresiasi dan Perhatian Universitas
Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Diana Kartika, menyebut momen penyerahan ijazah kepada keluarga Siti Azzahra sebagai bentuk apresiasi terdalam dari pihak kampus.
Menurutnya, pihak universitas sengaja mengundang keluarga agar ijazah tersebut diserahkan secara resmi dalam prosesi wisuda.
“Salah satu momen yang cukup mengharukan dalam prosesi hari ini adalah adanya seorang mahasiswa dari Program Studi PGSD yang telah menyelesaikan seluruh proses perkuliahannya, namun meninggal dunia sebelum sempat mengikuti wisuda,” tuturnya.
Langkah ini diambil universitas, sebagai bentuk perhatian kepada mahasiswi yang telah mendedikasikan waktunya untuk menuntut ilmu hingga garis finis.
“Ini merupakan bentuk apresiasi dan perhatian universitas kepada mahasiswa tersebut. Sebelumnya kami juga telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, dan hari ini kami menyerahkan ijazahnya secara resmi dalam prosesi wisuda,” tutup Diana.
















