Kabarminang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat di Sumatera Barat (Sumbar), terutama saat musim kemarau.
Pakar lingkungan sekaligus Guru Besar Universitas Gunadarma, Prof. Isril Berd, menilai ancaman karhutla sulit ditekan apabila pengawasan di lapangan masih longgar dan kepedulian terhadap lingkungan belum optimal.
Menurut Isril, kerusakan hutan akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, baik yang disengaja maupun tidak.
“Penurunan luas hutan secara masif berbanding lurus dengan tingginya potensi timbulnya titik api di berbagai wilayah Sumatera Barat,” kata Isril, Kamis (28/8/2026).
Ia memaparkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menunjukkan luas hutan Indonesia menyusut sekitar tiga juta hektare dalam kurun waktu tiga tahun, dari 128 juta hektare pada 2015 menjadi 125,92 juta hektare pada 2018.
Menurutnya, kondisi tersebut juga tercermin di Sumbar. Provinsi ini memiliki kawasan hutan lindung seluas 1,20 juta hektare dan kawasan suaka alam 569,69 ribu hektare, tetapi masih menghadapi persoalan perambahan hutan.
Berdasarkan pencitraan satelit Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah, kata Isril, sebanyak 22 persen dari sekitar 200 ribu hektare hutan lindung yang dipantau dalam kurun 10 tahun terakhir telah mengalami penebangan.
Isril menyebut kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Kabupaten Pesisir Selatan sebagai salah satu lokasi dengan tingkat pembalakan liar yang parah. Sedikitnya 20 persen dari total area sekitar 365 ribu hektare disebut mengalami kerusakan.
















