Kabarminang – Aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Sumatera Barat (BEM SB) di depan Kantor DPRD Sumatera Barat, Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Senin (15/6/2026), diwarnai aksi simbolik berupa penyalaan lilin dan tabur bunga di sekitar sebuah keranda.
Keranda yang ditempatkan di depan gerbang Kantor DPRD Sumbar itu dikelilingi belasan lilin yang dinyalakan di atas aspal. Sejumlah mahasiswa juga menaburkan bunga di sekeliling keranda sebagai bagian dari rangkaian aksi mereka.
Koordinator Pusat Aliansi BEM SB yang juga Presiden Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, Ulil Amri, mengatakan bahwa keranda tersebut berisi bantal yang dibungkus kain kafan dan digunakan sebagai simbol dalam penyampaian aspirasi mahasiswa.
“Keranda berisikan mayat dari bantal yang diselimuti dengan kain kafan, dikelilingi dengan belasan lilin yang dinyalakan di atas aspal dan juga ditaburi dengan bunga tabur sebagai bentuk simbol ekspresi kemarahan rakyat kepada para pemimpin terkait matinya hati nurani dan empati pemerintah,” kata Ulil Amri.
Ia menjelaskan bahwa simbol tersebut merupakan bentuk kritik mahasiswa terhadap kondisi yang mereka nilai terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, aksi simbolik itu menjadi cara mahasiswa menyampaikan keresahan dan tuntutan kepada para pemangku kebijakan.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Presiden Mahasiswa UNP, Farid Wajidi, mengatakan bahwa salah satu tuntutan utama adalah mendesak pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, mahasiswa menuntut pemerintah menghentikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Mereka juga meminta pemerintah membatalkan revisi Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia (UU Polri).
Mahasiswa turut mendesak pemerintah mengambil langkah konkret dan terukur untuk memperkuat nilai tukar rupiah serta menjaga stabilitas ekonomi nasional guna melindungi daya beli masyarakat.
Pada tuntutan terakhir, mahasiswa meminta Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengakui serta bertanggung jawab atas berbagai persoalan yang mereka nilai sebagai kegagalan tata kelola pemerintahan.
Hingga aksi berlangsung, mahasiswa terus menyampaikan aspirasi melalui orasi dan berbagai bentuk aksi simbolik di depan gerbang utama Kantor DPRD Sumbar. Penyalaan lilin, tabur bunga, dan keberadaan keranda menjadi simbol kritik yang mereka tujukan kepada para pemangku kebijakan.
















