Kabarminang – Pakar lingkungan sekaligus Guru Besar Universitas Gunadarma, Isril Berd, meminta pemerintah daerah dan masyarakat di Sumatera Barat mengevaluasi secara menyeluruh tata kelola lingkungan dan mitigasi bencana. Tragedi banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 harus menjadi momentum untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan agar bencana serupa tidak kembali terjadi.
Isril mengatakan, tingginya kerentanan Sumatera Barat terhadap bencana dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi geografis dengan lereng curam, karakteristik tanah yang mudah jenuh air, hingga degradasi daerah aliran sungai (DAS).
Menurutnya, bencana yang terjadi tahun lalu memperlihatkan perlunya perubahan mendasar dalam melihat hubungan antara aktivitas manusia, daya dukung lingkungan, dan keselamatan masyarakat.
“Kita tidak boleh lagi mengulang kesalahan masa lalu dengan mengabaikan daya dukung lingkungan dan tata ruang yang sudah jelas-jelas rapuh,” ujar Isril Berd kepada Sumbarkita, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan analisis klimatologi, bencana tersebut diawali kemarau panjang pada Juli hingga Agustus yang kemudian berubah drastis menjadi hujan ekstrem pada akhir November. Curah hujan bahkan tercatat melampaui 150 milimeter di sejumlah titik kritis, seperti Malalak, Ulakan Tapakis, hingga Lubuk Minturun.
Selain faktor cuaca, kondisi tanah di wilayah hulu daerah aliran sungai juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko bencana. Isril menyebut, sebagian besar kawasan tersebut didominasi tanah jenis Inceptisol yang belum berkembang sempurna dan relatif mudah mengalami kejenuhan air.
Kondisi itu menyebabkan kemampuan tanah menahan pergeseran lereng menurun ketika diguyur hujan berintensitas tinggi dalam waktu lama. Dampaknya, potensi longsor di kawasan hulu dan banjir bandang di wilayah hilir semakin meningkat.
“Tanah di hulu kita sangat cepat jenuh air saat hujan ekstrem, sehingga risiko longsor dan banjir bandang di hilir meningkat secara berlipat ganda,” katanya.

















