Kabarminang – Sebanyak 3.800 peserta mengikuti Minang Geopark Run (MGR) ke-7 tahun 2026 yang digelar di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kegiatan olahraga berbasis pariwisata ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di kedua daerah.
Pelaksanaan Minang Geopark Run 2026 dibahas dalam konferensi pers yang digelar Pemerintah Kota Bukittinggi bersama Pemerintah Kabupaten Agam dan Geopark Run Series di Lantai 4 Pasar Atas Bukittinggi, Sabtu (31/10/2026).
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengatakan Minang Geopark Run menjadi salah satu upaya memperkuat sektor pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran ribuan peserta diharapkan berdampak terhadap tingkat hunian hotel, aktivitas kuliner, hingga pergerakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Tanpa tamu datang ke Bukittinggi, ekonomi tidak bergerak dan UMKM kita tidak jalan. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus kita dorong untuk memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ramlan mengatakan, Pemko Bukittinggi bersama Pemkab Agam dan pihak pelaksana telah memaksimalkan persiapan untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Meski sejumlah ruas jalan masih dalam proses perbaikan, dia memastikan pekerjaan itu tidak mengganggu pelaksanaan Minang Geopark Run 2026.
“Kami tentu minta maaf kalau sedikit kurang nyaman, karena ada beberapa ruas jalan sedang kita perbaiki. Namun, itu tidak mengganggu jalannya pelaksanaan event MGR ini. Pekerjaan jalan yang kita laksanakan, beririsan dengan berbagai event yang disiapkan. Event mendatangkan pengunjung, perbaikan dan pembenahan kota, untuk ciptakan kenyamanan,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Lutfi, menyebut Minang Geopark Run menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi pariwisata Kabupaten Agam sekaligus memperkuat kolaborasi dengan Kota Bukittinggi.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di kedua daerah. Apalagi, Bukittinggi dan Agam memiliki keterkaitan dari sisi geografis maupun destinasi pariwisata.
“Bukittinggi dan Agam merupakan dua daerah yang saling berkaitan. Apa yang dilakukan di Bukittinggi juga akan berdampak terhadap Agam. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mengenal Bukittinggi, tetapi juga berbagai destinasi wisata yang ada di Kabupaten Agam,” ungkapnya.
Founder Minang Geopark Run, Yv Tri Saputra, menjelaskan kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada olahraga dan pariwisata, tetapi juga membawa misi pelestarian lingkungan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2018, Minang Geopark Run menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan potensi Geopark Sumatera Barat sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan.
“Tagline Minang Geopark ini adalah memuliakan bumi, menyejahterakan masyarakat. Harus dua-duanya. Lingkungan harus dijaga, tetapi masyarakat di sekitar juga harus mendapatkan manfaat ekonominya,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 3.800 peserta terbagi dalam tiga kategori lomba. Rinciannya, 1.950 peserta mengikuti kategori 5 kilometer (5K), 1.050 peserta kategori 10 kilometer (10K), dan 800 peserta kategori 21 kilometer (21K).
Jumlah peserta tersebut diharapkan tidak hanya memeriahkan kegiatan olahraga, tetapi juga memberikan efek berganda bagi sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan UMKM di Bukittinggi serta Kabupaten Agam.





















