Kabarminang — Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, menghadiri Gala Dinner International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 sekaligus Peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang digelar Pemerintah Kota Bukittinggi di Halaman Balai Kota Bukittinggi, Rabu (3/6/2026).
Pada kesempatan itu, Maigus menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, IMLF dan peringatan satu abad Jam Gadang menjadi momentum penting dalam memperkuat promosi budaya Minangkabau di tingkat internasional.
“Kami mengapresiasi terlaksananya kegiatan IMLF dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang ini. Peringatan ini menjadi pertanda bahwa Sumatera Barat, khususnya Bukittinggi, memiliki daya tarik budaya dan sejarah yang kuat di mata dunia,” kata Maigus.
Ia mengatakan, kegiatan yang dihadiri delegasi dari 38 negara menjadi ruang penting untuk memperkuat kerja sama budaya dan literasi antarbangsa.
“Dengan hadirnya delegasi dari 38 negara di kota ini, tentu menjadi sesuatu yang luar biasa. Momentum ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar pikiran, saling membantu, dan memperkuat literasi budaya untuk diwariskan kepada generasi mendatang,” tuturnya.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyebut peringatan 100 Tahun Jam Gadang merupakan kegiatan pertama yang digelar Pemerintah Kota Bukittinggi dalam skala besar.
Ia menjelaskan, Jam Gadang yang dibangun pada tahun 1926 merupakan jam bersejarah yang menjadi hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada Bukittinggi. Menurutnya, keberadaan Jam Gadang tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi simbol budaya dan identitas kota.
“Jam seperti ini hanya ada dua di dunia, satunya lagi berada di Big Ben, London. Walaupun Sumatera Barat rawan gempa, Jam Gadang tetap berdiri kokoh dan terpelihara hingga hari ini. Jam Gadang bukan hanya simbol sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi detak jantung kehidupan masyarakat dan ekonomi Bukittinggi,” ujarnya.
Ia menyebut, rangkaian kegiatan peringatan satu abad Jam Gadang juga mencakup penanaman 1.000 pohon, festival randai dan pertunjukan kesenian tradisional, seminar, parade 1.000 perempuan berpakaian Minang, parade 100 penyair dunia baca puisi, diskusi pariwisata dan ekonomi kreatif, serta berbagai agenda literasi lainnya yang melibatkan peserta dari berbagai negara.
















