Namun, Mukhtar kemudian mendapat kabar bahwa Zikri telah meninggal dunia.
“Saya merasa sedih karena dia juga teman saya yang sering beli rujak saya dan bercerita sama saya,” katanya.
Dalam perjalanan usahanya, Mukhtar juga pernah menghadapi persoalan saat berjualan. Salah satu yang paling diingatnya adalah ketika ia pernah diusir oleh Satpol PP.
Belanja Bahan ke Pasar Raya Dini Hari
Rutinitas Mukhtar dimulai sejak dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIB, ia pergi ke Pasar Raya Padang untuk membeli bahan-bahan rujak. Aktivitas tersebut dilakukan setidaknya sekali dalam tiga hari.
Setelah bahan tersedia, Mukhtar menyiapkan dagangannya sebelum mulai berjualan sekitar pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB di kawasan Lapai.
Menariknya, resep bumbu rujak yang digunakannya hingga kini masih sama seperti ketika pertama kali berjualan. Perbedaannya hanya pada kemasan dan peralatan yang kini lebih modern.
Di usia 65 tahun, Mukhtar belum memiliki keinginan untuk berhenti bekerja. Ia mengaku tidak nyaman jika hanya duduk di rumah dan menerima uang dari anak-anaknya.
“Karena sudah jadi kebiasaan dan saya merasa tidak nyaman kalau harus duduk-duduk dan menerima uang dari anak, saya merasa lebih senang dan bahagia jika saya berjualan,” ujarnya.
Setelah melewati perjalanan selama 42 tahun, Mukhtar mengaku tidak menyangka usaha yang dimulainya sejak usia 23 tahun tersebut masih bertahan hingga sekarang.
“Saya tidak menyangka kalau bisa sampai sejauh ini dan saya sangat bersyukur,” katanya.
Mukhtar berharap usaha yang telah menjadi bagian dari hidupnya itu tetap berjalan. Ia juga berharap masih diberi kesempatan untuk terus bekerja selama kondisi fisiknya masih mampu.
Baginya, berjualan rujak kini bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari keseharian sekaligus cara untuk tetap merasa senang dan produktif di usia senja.















