Selama lebih dari empat dekade, Mukhtar mengaku tidak pernah benar-benar berhenti berjualan. Ia tetap menjalani pekerjaan tersebut karena merasa senang.
“Belum pernah berhenti karena saya menyukai pekerjaan ini, saya merasa senang melakukan,” ujarnya.
Empat dekade berjualan membuat Mukhtar merasakan perubahan dalam mendapatkan bahan baku. Menurutnya, bahan rujak kini semakin sulit dicari dan harganya juga lebih tinggi dibandingkan dahulu.
Jumlah pembeli pun tidak lagi seramai masa awal berjualan. Ketika kondisi dagangan sedang sepi, pendapatannya sekitar Rp250 ribu per hari.
Dahulu, penghasilan dari berjualan rujak menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Mukhtar memiliki sembilan anak dan hasil jualan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga serta membiayai pendidikan mereka.
“Iya, menjadi penghasilan utama, yang waktu itu saya punya 9 orang anak, uangnya untuk kebutuhan keluarga, sekolah, dan lain-lain, dan sekarang mereka semua sudah punya keluarga masing-masing,” tuturnya.
Berbagai kesulitan selama menjalankan usaha dilewati Mukhtar dengan terus bekerja dan mendapat dukungan keluarga.
Salah satu kenangan yang masih melekat adalah pelanggan bernama Zikri, warga Seberang Padang. Mukhtar mengenalnya sekitar dua tahun setelah mulai berjualan. Bahkan hingga sekitar satu tahun lalu, Zikri masih datang membeli rujak dan berbincang dengannya.















