Kabarminang — Dua siswi Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Nurul Amal Cupak, Kabupaten Solok, Nur Aisyah dan Wella Hijra Madina, diterima untuk kuliah di Suzhou Institute of Trade and Commerce, Cina, melalui jalur mahasiswa undangan. Namun, keduanya terkendala biaya keberangkatan sekitar Rp64 juta sebelum dapat memulai perkuliahan di Negeri Tirai Bambu itu.
Aisyah mengatakan bahwa kebutuhan biaya tersebut meliputi tiket pesawat internasional, pengurusan paspor dan visa pelajar, administrasi penerbitan Letter of Acceptance (LOA), legalisasi dokumen, pemeriksaan kesehatan, serta kebutuhan hidup pada masa awal penyesuaian di Cina.
Bagi Aisyah, kesempatan melanjutkan pendidikan di luar negeri merupakan impian yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Perempuan kelahiran Cupak, 15 Desember 2006, itu merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya, Paldoni (43), bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibunya, Refni Chandra (44), merupakan ibu rumah tangga. Penghasilan sang ayah menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarga sekaligus membiayai pendidikan Aisyah dan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
“Awalnya saya tidak memiliki cita-cita untuk berkuliah di luar negeri karena keterbatasan ekonomi keluarga. Akan tetapi, menjelang akhir sekolah saya melihat banyak kesempatan beasiswa sehingga saya memiliki cita-cita untuk bisa berkuliah di luar negeri,” ujar Aisyah kepada Sumbarkita pada Sabtu (18/7/2026).
Aisyah memperoleh informasi mengenai kesempatan kuliah di Cina pertama kali dari kepala sekolahnya. Setelah mengikuti proses seleksi, ia dinyatakan diterima melalui jalur mahasiswa undangan pada program studi E-Commerce atau Bisnis Digital.
“Tantangan terbesar yang saya hadapi ialah masalah ekonomi keluarga dan juga keraguan dalam diri saya sendiri,” katanya.
Sementara itu, Wella Hijra Madina menghadapi tantangan yang berbeda. Perempuan berusia 18 tahun tersebut mengaku sempat tidak percaya diri untuk bercita-cita melanjutkan pendidikan di luar negeri. Meski kedua orang tuanya telah berpisah, ia tetap memperoleh dukungan penuh dari ayah, ibu, abang, guru, dan sahabat.
“Awalnya aku tidak punya cita-cita kuliah ke Cina atau ke luar negeri lainnya karena benar-benar tidak percaya diri. Sebenarnya, keinginan itu ada, tetapi rasanya sulit diwujudkan. Ternyata Allah memberikan rezeki melalui kesempatan ini. Daripada aku sia-siakan, lebih baik aku ambil,” tutur Wella.
Lulusan jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) itu memilih program studi E-Commerce karena ingin memperdalam ilmu bisnis digital sekaligus mempelajari bahasa Mandarin sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi.
Dalam proses meraih kesempatan tersebut, Wella mengaku pernah mengalami penurunan semangat belajar hingga mengalami tekanan akademik. Namun, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat membuatnya mampu bangkit dan terus melanjutkan perjuangan.
“Hal tersulit yang pernah aku alami adalah ketika semangat belajar menurun dan mengalami stres akademik. Tapi, aku ingat bahwa aku memulai semua ini untuk siapa. Aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah mendukung dan berjuang untukku. Dari situ aku kembali membangun semangat untuk belajar lebih baik,” ucapnya.
Meski memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda, Aisyah dan Wella memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kualitas hidup keluarga melalui pendidikan serta mengabdikan ilmu yang diperoleh untuk masyarakat.
“Untuk keluarga, saya ingin membahagiakan dan membantu perekonomian mereka. Untuk daerah, saya ingin mengabdikan diri dan membagikan ilmu yang saya dapatkan agar bisa ikut memajukan Sumatera Barat,” kata Aisyah.
Senada dengan itu, Wella berharap pendidikan di Cina dapat menjadi bekal untuk berkontribusi bagi masyarakat sekaligus mengharumkan nama Indonesia.
“Belajar itu tidak sulit kalau kita mau berusaha. Mimpi tidak memandang kamu berasal dari keluarga seperti apa. Bermimpilah setinggi mungkin, karena yang membuat kita gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena kita takut bermimpi besar,” ujarnya.
Meski telah mengantongi surat penerimaan dari perguruan tinggi tujuan, perjuangan keduanya belum selesai. Mereka berharap dapat segera memenuhi kebutuhan biaya keberangkatan sehingga kesempatan yang telah diraih tidak terhenti sebelum memasuki ruang kuliah di Cina.
















