Kabarminang — Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat (Sumbar) menggelar Hari Bermuhammadiyah bertema Memperkokoh Tradisi Musyawarah dan Mufakat dalam Bermuhammadiyah di Convention Hall Kampus I Padang, Jumat (10/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2022–2027, Shofwan Karim Elhussein, sebagai pembicara utama.
Acara tersebut diikuti sivitas akademika UM Sumbar bersama sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Rektor UM Sumatera Barat, Riki Saputra, mengatakan Hari Bermuhammadiyah menjadi agenda strategis universitas dalam memperkuat pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan kampus.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman spiritual, tetapi juga membangun kecerdasan sosial dan intelektual sivitas akademika.
“Tema musyawarah dan mufakat sangat relevan dengan kehidupan kampus karena mengajarkan pentingnya kebersamaan, penghargaan terhadap perbedaan pendapat, serta pengambilan keputusan secara arif demi kemajuan organisasi dan umat,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Shofwan Karim Elhussein menegaskan bahwa musyawarah dan mufakat merupakan fondasi utama dalam kehidupan organisasi Muhammadiyah. Menurutnya, nilai tersebut tidak sekadar menjadi mekanisme pengambilan keputusan, tetapi juga bagian dari ajaran syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Ia mengatakan tradisi bermusyawarah mampu melahirkan kepemimpinan yang adil, menghindarkan dominasi kelompok tertentu, serta memperkuat persatuan dalam mencapai tujuan bersama.
Shofwan menjelaskan bahwa prinsip musyawarah memiliki landasan normatif yang kuat, di antaranya Surah Ali Imran ayat 159 dan Surah Asy-Syura ayat 38, yang memerintahkan penyelesaian berbagai urusan melalui musyawarah. Selain itu, hadis Nabi juga menegaskan bahwa orang yang bermusyawarah tidak akan merugi.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi etika kepemimpinan Islam yang mengedepankan kebijaksanaan, kelembutan hati, dan tanggung jawab kolektif.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa filosofi musyawarah dalam Muhammadiyah dibangun atas dasar kejujuran, amanah, persamaan kedudukan, serta tanggung jawab bersama. Mufakat, katanya, bukan lahir dari dominasi suara terbanyak, melainkan dari kesediaan seluruh peserta untuk mencari titik temu terbaik.
Karena itu, kepemimpinan Muhammadiyah menuntut karakter siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah sebagai landasan moral dalam menjalankan amanah organisasi.
Pada kesempatan tersebut, Shofwan juga menjelaskan sistem pemilihan pemimpin di Muhammadiyah yang dilakukan melalui forum permusyawaratan secara kolektif-kolegial. Proses pemilihan menggunakan sistem formatur yang mengedepankan integritas, komitmen ideologis, loyalitas, dan akhlak calon pemimpin.
Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi seperti e-voting menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar organisasi.
Selain itu, Shofwan memaparkan bahwa manajemen Muhammadiyah disusun secara berjenjang mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, hingga ranting. Tata kelola tersebut memadukan profesionalisme, partisipasi, administrasi yang tertib, serta semangat dakwah berkemajuan.
Menurutnya, dengan manajemen yang kuat dan budaya musyawarah yang terus dipelihara, Muhammadiyah mampu berkembang sebagai gerakan Islam yang modern dan berkemajuan.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif. Dosen dan mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengajukan pertanyaan mengenai implementasi musyawarah dalam kepemimpinan organisasi, tantangan menjaga budaya kolektif di era digital, hingga strategi Muhammadiyah menghadapi dinamika sosial masyarakat.
Sebagai penutup, panitia menggelar Quiz Hari Bermuhammadiyah yang disambut antusias oleh para peserta. Pemenang memperoleh berbagai doorprize yang disiapkan panitia. Shofwan Karim Elhussein juga membagikan sejumlah buku karyanya kepada peserta sebagai bentuk apresiasi sekaligus mendorong peningkatan budaya literasi.
















