Kabarminang — Pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Sumatra Barat dinilai bukan sekadar gangguan teknis biasa. Gangguan pasokan listrik disebut telah memukul aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil yang bergantung pada perputaran uang harian.
Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai listrik saat ini telah menjadi kebutuhan utama hampir di seluruh aktivitas ekonomi modern, mulai dari produksi, perdagangan, jasa, komunikasi hingga transaksi digital.
“Pemadaman listrik langsung memukul aktivitas ekonomi masyarakat karena listrik menjadi input utama produksi, perdagangan, jasa, komunikasi, dan transaksi digital,” kata Syafruddin kepada Sumbarkita, Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, kelompok yang paling cepat merasakan dampak pemadaman ialah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), karena sebagian besar usaha kecil sangat bergantung pada arus kas harian.
Saat listrik padam, kata dia, warung makan kehilangan jam operasional, usaha laundry tidak dapat menjalankan mesin, percetakan berhenti melayani pelanggan, hingga pedagang online kehilangan akses komunikasi dan transaksi digital.
“Biaya tetap tetap berjalan, sedangkan omzet hilang. Karena itu, pemadaman listrik tidak boleh dipandang sebagai gangguan teknis sesaat. Ia memotong perputaran uang lokal, menurunkan produktivitas, dan melemahkan daya tahan usaha kecil,” ujarnya.
Syafruddin mengatakan, dampak paling besar dirasakan usaha yang bergantung pada pendingin dan alat elektronik. Pelaku usaha frozen food, penjual ikan, daging, ayam, susu, es krim, kafe, katering, hingga minimarket kecil menghadapi risiko kehilangan penjualan sekaligus kerusakan stok barang.
Ia menjelaskan, ketika pendingin mati selama beberapa jam, kualitas barang akan menurun dan pelaku usaha terancam membuang stok yang rusak serta membeli bahan baku baru dengan modal tambahan.
















