Kabarminang — Kecemasan warga di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, meningkat setelah harimau Sumatera kembali terlihat mendekati permukiman. Kemunculan terbaru dilaporkan terjadi di kawasan rimba di Kampeh, Jorong Matua Katiak, Nagari Matua Hilia, pada Selasa (5/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.
Wali Nagari Matua Hilia, Nofrizal Anas, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima informasi keberadaan satwa dilindungi tersebut di wilayah perbatasan nagari. Berdasarkan laporan yang ia terima, kemunculan satwa terjadi secara berurutan di kawasan yang berbatasan langsung dengan Jorong Taratak, Nagari Lawang.
“Awalnya, satwa itu muncul di Jorong Taratak. Saat itu ada warga yang melihat langsung keberadaannya di sekitar permukiman,” ujarnya kepada Sumbarkita.
Nofrizal mengatakan bahwa pihaknya bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat di sekitar perbatasan meningkatkan kewaspadaan. Namun, hanya berselang beberapa jam setelah imbauan tersebut diberikan, satwa tersebut dilaporkan kembali terlihat di kawasan kampung.
Menyikapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Nofrizal mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah.
“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak berkeliaran jauh dari rumah demi tidak timbulnya korban,” tutur Nofrizal.
Pihaknya terus menjalin koordinasi intensif dengan instansi terkait untuk memantau pergerakan satwa tersebut.
Sementara itu, kejadian ini menambah panjang daftar konflik manusia dan satwa di wilayah tersebut dalam sepekan terakhir. Pada Sabtu (2/5/2026) tiga orang warga sempat terjebak di dalam pondok hutan setelah bertemu langsung dengan harimau Sumatera di kawasan perladangan. Ketiga warga tersebut, yakni Syamsuir (74 tahun), Syafniati (57 tahun), dan Pendi (40 tahun), terpaksa mengamankan diri di dalam pondok setelah melihat sosok harimau saat sedang berladang sekira pukul 9.30 WIB.
















