“Denyut nadi KS tidak ada lagi. Kaki dan tangan korban sudah kakau atau tegang,” ucap Andri.
Setelah mengetahui bahwa KS meningga, FR duduk di samping kanan mayat KS dan bersandar ke diding sambil merokor untuk memikirkan akibat perbutannya itu. Ia kemudian mengambil ponselnya di atas meja dan membuka Google untuk mencari tahu hukuman pembunuhan.
“Karena tidak menemukan informasi tentang hukuman pembunuhan, FR berniat untuk menyerakan diri ke kepolisian,” ujar Andri.
Sekitar pukul 14.31 WIB FR mengambil kunci mobil Agya milik KS di atas meja, lalu keluar kamar dan mengunci kamar. Ia kemudian menemui resepsionis untuk memperpanjang sewa kamar. Setelah itu, ia menuju parkiran mobil dan menyalakan mobil untuk pergi ke Polres Dharmasrya di Gunung Medan.
Dalam perjalan menuju polres, FR menghubugi temannya yang bernama Siir untuk menanyakan keberdaannya. Siir mengatakan bahwa ia sedang berada di Sungai Dareh. Kemudian, FR bertanya apakah ia boleh menukar mobil yang sedang ia bawa karena ia akan pergi ke Solok Selatan. Siir membolehkannya dan menunggu FR di lapangan bola Simpang Pogang. Karena itu, FR pergi menjemput mobil Siir.
Di lapangan bola FR berkata kepada Siir bahwa ia meminjam mobil Kijang Innova Siir karena ia akan pulang ke Abai, Solok Selatan, satu hari. Namun, Siir berkata kepada FR bahwa FR tidak bisa meminjam mobil Innova dengan jaminan mobil Agya dan uang yang telah ia pinjam kepada FR. FR lalu mengatakan bahwa ia menambah jaminannya dengan emas yang ada di dalam mobil.
“Kalau untuk sehari besok, okelah,” kata Siir.
Setelah itu, FR mengambil kunci Innova tersebut, lalu melanjutkan perjalanan menuju kantor polres.














