Menurut Siska, rumah dinas dipilih sebagai lokasi penyimpanan sementara karena aman, mudah dijangkau, serta memiliki ruang yang memadai. Hal ini dilakukan mengingat gudang utama Dinas Sosial tidak mampu menampung seluruh kiriman logistik yang datang secara bersamaan dari berbagai pihak.
Selain itu, kondisi lapangan yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi kecepatan penyaluran. Beberapa akses jalan dan jembatan masih terputus akibat banjir dan longsor, sehingga distribusi bantuan harus dilakukan secara bertahap.
“Setiap bantuan yang masuk kami catat sesuai sumbernya, jumlahnya, dan tujuan distribusinya. Tidak ada satu pun bantuan yang disimpan untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Distribusi Bertahap dan Imbauan ke Publik
Siska menambahkan, bantuan logistik tetap disalurkan ke seluruh kecamatan terdampak, termasuk wilayah yang sulit dijangkau. Proses distribusi dilakukan menyesuaikan kondisi akses dan keamanan di lapangan, yang masih bersifat dinamis.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati menyikapi informasi di media sosial, terutama di situasi darurat bencana yang rawan memunculkan informasi tidak utuh.
“Yang paling penting adalah memastikan bantuan sampai ke warga yang membutuhkan. Kami bekerja siang dan malam untuk itu,” ujarnya.
Pemerintah daerah, lanjut Siska, juga membuka kanal pelaporan resmi apabila masyarakat menemukan ketidaksesuaian dalam pendistribusian bantuan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah informasi yang belum terverifikasi berkembang menjadi kesimpangsiuran atau hoaks, sekaligus menjaga kepercayaan publik dalam penanganan bencana.
















