Kabarminang — Peristiwa amblasnya jalan di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, yang menyerupai lubang raksasa (sinkhole) usai hujan deras pada Selasa (12/5/2026) malam menjadi sinyal kuat bahwa daerah itu berada dalam kondisi sangat rentan.
Praktisi GIS Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, mengatakan, kejadian ini tidak bisa dilihat hanya sebagai dampak cuaca ekstrem semata. Ia menilai kerusakan infrastruktur terjadi akibat pertemuan antara intensitas hujan tinggi dengan karakter geologi wilayah yang memiliki tingkat kerentanan sangat tinggi.
“Nagari Situjuah berada pada bentang alam yang tersusun oleh endapan piroklastik seperti tufa batuapung dan abu vulkanik yang tidak kompak, sehingga sangat sensitif terhadap infiltrasi air dalam jumlah besar,” ujarnya kepada Sumbarkita, Kamis (15/5/2026).
Ia menyebut, fenomena ini bukanlah hal baru karena sebelumnya pernah terjadi fenomena serupa di area persawahan. Ia menyebut, kondisi ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara permukaan tanah dengan sistem saluran air atau akuifer yang berada di bawahnya.
Ia melanjutkan, secara ilmiah fenomena ini berkaitan erat dengan proses piping erosion atau erosi internal di bawah permukaan tanah.
“Air hujan yang meresap ke lapisan tufa batuapung membawa butiran halus material ke bawah melalui rekahan, yang seiring waktu membentuk rongga-rongga tersembunyi,” ujarnya.
Ia mengatakan, proses erosi bawah tanah tersebut sering kali tidak terdeteksi dari permukaan hingga akhirnya terjadi kolaps mendadak. Menurutnya, ketika tanah sudah mencapai titik jenuh air akibat hujan ekstrem, daya dukung lapisan tanah akan hilang dan menyebabkan amblasan seketika.
Ia mengimbau pengaku kebijakan tidak hanya fokus pada perbaikan jalan di permukaan, tetapi juga memahami kondisi geologi bawah tanah secara menyeluruh.
















