“Karakter Situjuah memiliki kerentanan berlapis, di mana potensi amblasan tanah bisa terjadi bahkan di kawasan datar yang selama ini terlihat aman,” subutnya.
Ia juga menyayangkan pola mitigasi bencana saat ini yang dinilai masih bersifat reaktif atau baru bergerak setelah kerusakan terjadi. Ia mendorong pemerintah untuk lebih memanfaatkan teknologi GIS dalam memetakan zona risiko berdasarkan data geologi, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan.
Timtim menyarankan agar pembangunan infrastruktur di kawasan rentan harus mempertimbangkan daya dukung alam agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa depan.
“Mitigasi berbasis lanskap sangat krusial agar pembangunan dan tata ruang kita benar-benar adaptif terhadap risiko bencana yang ada,” katanya.
Ia juga berpesan kepada masyarakat agar mulai membangun budaya mitigasi dengan memahami karakter tempat tinggal mereka sendiri.
“Bencana bukan hanya persoalan seberapa besar hujan yang turun, melainkan seberapa jauh manusia memahami kondisi tanah yang mereka pijak,” imbuhnya.
















