“Ada kebahagiaan melihat Adiba bisa berjalan lagi. Seolah dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa berdiri kembali setelah lama hanya berbaring,” ujar Andas.
Menurutnya, putrinya menunjukkan semangat luar biasa selama menjalani pengobatan. Adiba tetap berusaha tegar, termasuk saat harus menjalani pemasangan infus yang sebelumnya sangat ditakutinya.
Di balik perjuangan tersebut, kondisi ekonomi keluarga semakin tertekan. Tabungan dan modal usaha yang dimiliki telah habis digunakan untuk biaya pengobatan, transportasi, kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah kakak Adiba, hingga membayar kontrakan.
Andas yang sebelumnya memiliki usaha kini bekerja sebagai pengemudi ojek online. Namun, ia tidak dapat bekerja penuh karena harus rutin mendampingi putrinya menjalani kontrol dan pengobatan.
“Saya kadang hanya bisa bekerja setengah hari, bahkan tidak bisa bekerja sama sekali kalau harus menemani Adiba ke rumah sakit,” ujarnya.
Tak hanya itu, Andas juga tengah menghadapi masalah kesehatan. Sebelum Adiba didiagnosis kanker, ia telah dinyatakan memiliki tumor di bagian perut bawah sebelah kanan dan dijadwalkan menjalani operasi. Namun, tindakan tersebut ditunda demi memprioritaskan pengobatan putrinya.
Sementara itu, ibu Adiba merupakan ibu rumah tangga. Keluarga kecil itu tinggal di rumah kontrakan di Jakarta bersama seorang anak lainnya yang kini duduk di bangku kelas V sekolah dasar.
Sebelum sakit, Adiba merupakan anak aktif yang memiliki banyak aktivitas. Ia gemar membuat vlog, pandai membaca dan menulis meski baru dikenalkan abjad saat PAUD, serta memiliki cita-cita menjadi seorang dokter agar suatu hari bisa membantu orang lain dan membahagiakan kedua orang tuanya.















