Untuk memastikan penyebab penyakit tersebut, dokter melakukan berbagai pemeriksaan, mulai dari Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB), MRI, biopsi melalui operasi kecil, hingga pemeriksaan Immunohistochemistry (IHK). Sampel jaringan kemudian dikirim ke Rumah Sakit Kanker Dharmais.
Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan memastikan Adiba mengidap leukemia AML akut.
Andas mengatakan hasil pemeriksaan Bone Marrow Puncture (BMP) menunjukkan sel blast kanker dalam tubuh Adiba telah mencapai sekitar 60 persen.
“Dokter mengatakan penyakit Adiba sangat agresif. Saat itu dokter menyampaikan peluang hidup Adiba sekitar 2,5 persen karena kanker yang dideritanya sangat ganas,” katanya.
Kabar tersebut membuat keluarga terpukul. Meski demikian, Andas dan istrinya berusaha tetap tegar agar Adiba tidak kehilangan semangat menjalani pengobatan.
Saat diagnosis ditegakkan, kondisi Adiba sudah sangat berat. Wajahnya mengalami penebalan dan berubah warna menjadi merah keunguan. Benjolan muncul di berbagai bagian tubuh, mulai dari kepala, leher, ketiak, tangan, kaki hingga selangkangan.
Selama kurang lebih delapan bulan, Adiba hanya bisa terbaring. Untuk beraktivitas, termasuk buang air kecil dan buang air besar, ia harus digendong dan dibantu keluarganya.
Dokter kemudian menyarankan Adiba segera menjalani kemoterapi. Setelah menjalani empat siklus kemoterapi, kondisinya mulai menunjukkan perkembangan positif.















