Kabarminang — Tato Mentawai bukan sekadar seni tubuh, melainkan simbol spiritual sekaligus identitas masyarakat Kepulauan Mentawai. Nilai tersebut terus diperkenalkan melalui berbagai kegiatan kebudayaan.
Seorang perajin tato Mentawai di Padang, Joshua Sermon Sikatsila, yang aktif memperkenalkan makna dan filosofi tato tersebut, menyebut upaya itu dilakukan sebagai bagian dari pelestarian tradisi sekaligus edukasi kepada masyarakat luas. Ia merupakan pria asal Kecamatan Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai.
Ia mengaku mulai menekuni seni tato sejak 2019. Perjalanan itu dimulai dari kampung halamannya yang kemudian meluas ke luar daerah, salah satunya di Kota Padang.
Ia mengatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat Mentawai, tato merupakan simbol spiritual dan identitas yang melekat pada identitas individu dalam komunitas.
Tato Mentawai terbagi tiga jenis, yakni sarereiket, tiritoinan, dan silaoinan. Makna tato tersebut berkaitan erat dengan hubungan manusia dan alam.
“Maknanya simbol spiritual terhadap alam. Karena dulu Mentawai sebelum adanya agama menganut Arat Sabulungan,” kata pria yang akrab disapa Jak Jos Sipatitik itu kepada Sumbarkita.
Ia juga mengungkapkan sejumlah simbol dalam tato, seperti motif di punggung yang melambangkan penyimbang, serta motif berbentuk matahari sebagai simbol hubungan manusia dengan semesta.
“Motif itu terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat Mentawai dan alam sekitar, seperti dedaunan, bunga, batang pohon, hingga akar,” ujarnya yang juga tergabung dalam Formma Sumbar.















