Selain itu, terdapat pula motif yang terinspirasi dari hewan, seperti garis menyerupai tulang ikan, sayap burung, atau jejak binatang buruan. Kemudian, motif benda langit seperti bintang dan matahari melambangkan petunjuk arah dan kehidupan.
Selain sebagai identitas, tato Mentawai juga berkaitan erat dengan praktik pengobatan tradisional. Jak Jos menjelaskan istilah “sikerei” sebagai tabib dalam budaya Mentawai, sementara proses pembuatan tato dilakukan secara tradisional dan melibatkan ritual tertentu yang dilakukan sikerei.
Ia juga meluruskan perbedaan istilah dalam budaya Mentawai. Menurutnya, “sikerei” berperan sebagai tabib, sedangkan “sipatiti” merupakan pihak yang khusus membuat tato.
Ia menjelaskan bahwa dalam praktiknya, tato tradisional Mentawai tidak dibuat secara sembarangan. Begitu juga seluruh alat yang digunakan berasal dari bahan alami, seperti jarum dari duri atau tulang, alat pemukul dari kayu, serta tinta dari arang pilihan yang dicampur dengan air tebu.
Dalam perjalanannya, ia mengaku tidak selalu mendapat dukungan. Ia sempat menghadapi penolakan dari lingkungan di kampung halamannya saat awal menekuni seni tato tersebut.
“Awal-awal malah dianggap buruk. Padahal tato ini identitas orang Mentawai,” imbuhnya.















