Saiman juga membantah kabar yang menyebut Mayor pingsan akibat dianiaya di Pos 2 pada hari kejadian.
”Klaim pingsan di lokasi pada hari Minggu itu tidak benar dan diduga direkayasa demi konten simpati publik. Setelah kejadian, dia masih sadar dan mampu berjalan turun sendiri,” ujar Saiman.
Saiman menduga bahwa perselisihan itu terjadi karena kecemburuan sosial dan ekonomi Mayor yang baru kembali dari perantauan.
Saiman mengungkapkan bahwa Mayor diketahui sempat memasang portal kayu di bawah Pos 2 untuk membatasi ruang gerak ojek resmi dan mengarahkan pendaki agar berbelanja di warung milik keluarganya.
Perihal aturan operasional pendakian, Saiman menerangkan bahwa posko menerapkan larangan membawa penumpang ojek lebih dari satu orang demi keselamatan jalur. Namun, katanya, Mayor yang sejak 15 hari terakhir ikut menarik ojek sering kali melanggar aturan.
“Dia membawa dua penumpang dalam satu kali jalan,” ucap Saiman.
Saiman mengatakan bahwa perselisihan itu telah difasilitasi di tingkat nagari bersama wali nagari, tokoh masyarakat (niniak mamak), keluarga pedagang yang pingsan, keluarga Mayor, dan warga. Ia menyebut bahwa hal itu dilakukan guna menjaga kondusifnya objek wisata Gunung Talang.
Perihal pembersihan sampah, Saiman mengatakan bahwa pihaknya rutin membesihkan sampah sebulan sekali.
















